Rara dan Fafa Bersaudara

NYALANYALI.COM, Kisah – Kembar saja nampaknya, selalu itu yang diucap sesiapa yang baru mengenal mereka. Kakak beradik Rara dan Fafa, Rara berkulit kuning terlihat ayu, sedang Fafa lebih gelap dengan senyum manis.

Jarang orang bisa membedakan mereka dengan tinggi yang hampir sama pun wajah yang serupa. Meski terpaut jarak 29 bulan umur mereka, nyaris mirip meski tak identik. Punya kebiasaan dan kesenangan yang tak jauh beda pula.

Menjadi yatim semenjak 2 tahun lalu, berdua mereka merenda nasib bertiga ibu, tanpa hadirnya sosok ayah yang selalu jadi pahlawan nomor satu, yang selalu ada saat mereka pinta, jadi pujaan sepanjang masa tanpa ada tandingannya. Idola … yang memberikan kenangan indah pertama dimasa kanak-kanak mereka, yang tak akan terlupa dan tak pernah tergantikan.

Takdir tak membuat putus asa, usia belia tak lantas menjadikan manja, meminta segala yang diingini ada didepan mata. Menjadi mandiri selepas balita tanpa diminta itu memang adanya mereka.

Banyak cita-cita Rara dan Fafa, dari arsitek, pelukis hingga penari terkadang juga menjadi koki. Tak sedikitpun keinginan mereka untuk menjadi pegawai negeri.

Murni dari diri mereka sendiri tanpa ada intervensi, do’a terbaik selalu mengiringi.

Tak muluk  mimpi yang dipunyai, tetapi pasti membuat bangga setiap orang tua yang memiliki anak seperti mereka. Selalu menghibur dan memiliki ide-ide luar biasa, meski seusianya lebih pantas bermain boneka bersama sebayanya.

Tak mau berpangku tangan, karena hidup berjalan tidak hanya dengan berangan-angan. Cita-cita besar terbayang, dari sekarang harus dijelang.

Bermodal patungan koin dan lembaran rupiah yang disisihkan dari uang saku, bermula dari seribu sampai terkumpul sepuluh ribu. Hingga dirasa cukup sampai beberapa minggu, terkumpullah sudah jumlah yang diinginkan.

Dihitung satu persatu, dipilah antara recehan logam dan kertas.  Berbinar mata-mata kecil menatap apa yang mereka harapkan terwujud dengan pengorbanan penuh niat.

Jadi pengusaha muda ala anak sekolah dasar, berjualan pentol pedas dipinggir jalan meski harus menumpang diemperan toko milik “eyang uti” kenalan keluarga, yang merasa bangga, dengan kemandirian mereka, iya sajalah jawab beliau waktu kami meminta ijin berjualan disitu.

Alhasil, jadilah Rara dan Fafa bersaudara sipengusaha muda, tiap pulang sekolah rela berpanas-panasan menunggu dagangan, menanti satu dua orang pembeli juga langganan yang datang tiap hari.

Tentu saja kali ini dengan bantuan orangtua, ibunda tercinta yang harus rela pergi kepasar subuh buta, sesaat setelah imam dimushola dekat rumah menyelesaikan bacaan yassin dan do’a-do’a lainnya.

Rela berdiri menunggu giliran ditoko daging dan penggilingan yang dijam tersebut sudah penuh sesak dengan antrian.

Pulang kerumah pun tak lantas bisa langsung selonjor atau sedikit bermalasan, bahan tersedia siap diolah setelah menyiapkan keperluan sekolah. Dengan tetap memegang teguh keyakinan bahwa lelah akan menjadi lillah.

Tak cukup sampai di sini, jualan jelly pun dijalani, sekolah jadi pilihan nomor satu, tanpa ragu ditawarkan keteman sebangku, terkadang juga bapak ibu guru, meski dengan malu-malu.

Jelly buatan Rara sendiri, dengan sedikit kreasi walaupun sesekali rasanya seperti gulali. “Kebanyakan gula” jawab Rara sambil nyengir kuda waktu kuberitahu rasanya terlalu manis.

Kantin sekolah selalu ia sambangi, bukan untuk menghabiskan uang jajan tapi mengumpulkan piti dari berjualan jelly. Tak mau kalah dengan sang kakak, Fafa pun ikut jualan dengan cirinya sendiri. Beda bentuk lain rasa, berkompetisi mereka sejak dini.

Tak pernah aku memaksa ataupun meminta mereka, melainkan keinginan sendiri untuk mandiri.

“Aku pengen ibu bahagia” ujar bungsuku suatu waktu.

Remuk redam perasaan bercampur malu, karena seumuran mereka aku belum mampu berbuat seperti itu. 

Duh ibu, bahkan sampai detik ini pun aku belum bisa membahagiakanmu.

Allah Tuhanku, anugerah tak terkira kau, berikan anak-anak ini kepadaku.

Meski harus menahan tangis haru dan mencoba tegar, selalu dan selalu hanya senyum dan do’a yang bisa kuberikan, sembari kukatakan “Kalian anak-anak hebat, kalian pasti bisa meraih mimpi kalian.” 

Maafkan ibumi ini, nak, yang belum bisa menjadi sempurna, sosok ibu yang kalian damba.

Salah ibumu nak, yang terlalu terlena, menikmati hasil keringat ayah kalian, semenjak ibu berhenti menjadi karyawan swasta. 

Sekarang tinggal kita bertiga, memulai langkah baru bertumbuh bersama dari awal tanpa melupakan kehilangan dan kesedihan, karena itu bagian dari kehidupan.

Rara dan Fafa bersaudara, impian kalian semoga semakin besar, sebesar Mario Bros, situkang ledeng bersaudara dari negeri pizza, italia yang berhasil mendunia. Rara dan Fafa, mereka bersaudara, satu impian yang sama, ingin bundanya bahagia. 

DWI RATNA – Malang
Buku #sayabelajarhidup ke-11 Nusantara Berkisah 01: Orang-orang Sakti (2019)

Bagikan :

Advertisement