Dari Impunitas Pelaku hingga Perkawinan Antarsuku

NYALANYALI.COM – Vahid tiba-tiba mendengar suara langkah kaki palsu yang menghancurkan hidupnya pada masa lalu. Kendati kedua matanya ditutup saat disiksa dalam penjara rezim berkedok syariah di Iran, ia karib dengan langkah khas aparat intelijen Eghbal. Mobil sang penyiksa yang mogok sedang diperbaiki rekannya. Setelah menabrak seekor anjing sampai mati di jalan, malam itu sial bagi Eghbal. Apalagi putrinya yang bocah menuding sang ayah sebagai pembunuh.

Usai mobil dibetulkan, Vahid pun membuntuti Eghbal sampai rumahnya. Esoknya, mantan demonstran yang menuntut upah belum dibayar selama delapan bulan itu, gantian menculik dan menyiksa sang intel. Di padang pasir, ia hendak mengubur Eghbal hidup-hidup. Namun, karena belum pernah melihat wajahnya, Vahid menunda niatnya, meski telah menggali liang lahat Ehgbal. Ia pun memasukkan jasadnya ke dalam peti di mobil van-nya untuk konfirmasi.

Ia menemui bekas tahanan, Salar, yang berjualan buku. Salar yang antikekerasan menolak memvalidasi, lalu menyuruhnya menemui Shiva. Fotografer perempuan ini sedang memotret calon pengantin, Goli dan Ali. Kendati awalnya enggan terlibat, Shiva akhirnya mencium aroma keringat Eghbal yang juga menyiksanya dalam bui. Goli pun ternyata diperkosa Eghbal di penjara. Shiva akhirnya membawa mereka kepada Hamid yang membenarkan sosok Eghbal.

Persoalan muncul saat putri penganiaya mereka menelepon ke handphone ayahnya bahwa ibunya yang sedang hamil tua jatuh. Vahid menolong istri pelaku ke rumah sakit hingga melahirkan. Bahkan Shiva dan Goli berpatungan membayar tip suster yang meminta uang. Ini adegan korupsi kedua dalam film Jafar Panahi, It Was Just An Accident, yang meraih Palem Emas di Cannes 2025. Scene pertamanya dua polisi yang meminta jatah dengan mesin EDC.

Hamid yang tak sabar ingin segera membunuh Eghbal. Tetapi Vahid dan Shiva malah membebaskannya. Film berakhir dengan langkah kaki sang penyiksa yang traumatis bagi Vahid di rumahnya. Suara burung gagak terus terdengar sampai ending title raib. Awak tertegun di bioskop CGV Depok Mall. Teringat mendiang Jati yang sempat diculik dan disiksa Tim Mawar Kopassus pada 1998. Satu film tentang impunitas pelaku dan trauma korban HAM.

Sebelum menonton film Panahi pada 18 Oktober 2025 lalu, awak juga menonton film fiksi Yuda Kurniawan, Menuju Pelaminan, di bioskop yang sama. Minggu sore silam, awak pun sempat menonton film dokumenter Yuda di Taman Ismail Marzuki, Roda-roda Nada. Seperti dokumenternya, film ini juga asyik. Kisah perjalanan menikah pemuda Jogja dengan gadis Pariaman. Budaya patrilineal Jawa bersitegang dengan matrilineal Minang.

Uniknya, Yuda memakai bahasa Jawa dan Minang dalam dialog. Tradisi japuik yang keluarga pengantin perempuan memberi uang kepada keluarga pengantin pria menjadi masalah. Tapi, yang lebih problem adalah kakek pengantin lelaki yang takut naik pesawat. Jadilah keluarga cowok menyewa sebuah mobil tua yang mogok di jalan saat menyusuri Pulau Sumatra.

Sudah telat datang mobil tua sewaan, sang kakek nyekar lama di makam nenek. Sedangkan ibu calon suami minta mampir ke Masjid Wali Songo di Cirebon dan Masjid Kubah Emas di Depok. Sementara tantenya yang baru pulang umroh harus tepat waktu sholat di masjid. Padahal jama’ (menyatukan sholat) dan qoshor (meringkas rokaat) merupakan sedekah Allah kepada hamba-Nya yang sedang dalam perjalanan.

“Kalian itu kan berjilbab, tapi kerjaannya ngegosip terus,” keluh bapak calon suami kepada istri dan adik iparnya. Perjalanan melelahkan serta penuh pertengkaran. Eyang akhirnya dirawat di klinik semalam, karena kecapekan dan puasa mutih jelang cucunya wafat. Lewat Jakarta, mobil pun menghadapi kemacetan panjang. Di Sumatra, AC-nya rusak pula. Mobil terpaksa masuk bengkel dulu. Sang pemuda akhirnya marah, numpang sebuah truk agar tak telat menikah.

Di dalam truklah, ia menghafal ijab qobul. Calon pengantin pria itu numpang sampai simpang menuju Pariaman, lalu melanjutkan dengan ojek motor. Dua upacara adat Minang sudah lewat. Penghulu juga telah meninggalkan rumah panggung keluarga cewek nan elok. Paman mempelai cowok bertemu dulu dengan ayah mempelai cewek di warung makan. Penghulu pun dijemput. Melihat mobil seri Jogja lewat jalan kampung, tamu-tamu akhirnya kembali ke perhelatan. “Kita itu kayak figuran di tengah orang-orang yang asyik berfoto bersama pengantin,” kata sang istri kepada suami. Sebuah kisah klasik perkawinan di Indonesia: keluarga lebih banyak mau daripada yang menikah. Selamat buat Yuda dan Perusahaan Produksi Film Negara (PPFN) rezim lama yang memproduksi film ini. Enggak cuma horor film kita.

Jakarta-Depok, 19 Oktober 2025
RAMDAN MALIK

Bagikan :

Advertisement