Merah Darah di Langit Ramadan

NYALANYALI.COM – Gerhana bulan merah darah terjadi di Ramadan kali ini. Fenomena ini menjadi satu-satunya gerhana bulan total yang dapat disaksikan dari wilayah Indonesia, sepanjang 2026.

Telah mentradisi dalam masyarakat Jawa, bahwa setiap fenomena alam pasti dihitung. Bukan tanpa alasan, melainkan karena pengalaman masa lalu yang terukir di ranah sejarah bukan hanya kisah tanpa makna, melainkan algoritma untuk menebak masa depan. Lantas, banyak spekulasi muncul, benarkah gerhana bulan ini sebagai alarm bencana?

 Fenomena bulan merah darah atau blood moon akan terjadi saat gerhana bulan total muncul pada Rabu Kliwon, 14 Ramadan –dalam hitungan Jawa– tahun ini. Peristiwa ini membuat warna bulan tampak berbeda dari kondisi biasanya. Jika cuaca cerah, bulan terlihat kemerahan saat fase puncak gerhana.

Fenomena ini akan menghiasi langit Indonesia sejak sore hingga malam hari. Peristiwa terjadi saat fase purnama, ketika matahari, bumi, dan bulan berada dalam satu garis lurus. Pada momen ini, bulan akan masuk sepenuhnya ke dalam bayangan inti bumi. Lalu, bagaimana proses terjadinya blood moon saat gerhana bulan total?

Istilah blood moon merujuk pada warna merah yang tampak ketika bulan sepenuhnya masuk ke dalam bayangan inti (umbra) bumi. Mengacu pada penjelasan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Rabu (25/2/2026), warna merah saat pucak gerhana disebabkan oleh hamburan rayleigh di atmosfer bumi. Pada tahap ini, cahaya matahari yang melewati atmosfer bumi akan terhambur yang membuat cahaya dengan gelombang pendek, seperti biru akan tersebar lebih banyak. Sedangkan cahaya dengan gelombang lebih panjang, seperti merah, akan lolos dan mencapai permukaan bumi.

Masyarakat Jawa meyakini, bahwa setiap kemunculan gerhana bulan akan membawa dampak bagi kehidupan di bumi. Kehidupan harmonis dengan alam diterapkan sejak dahulu kala, sehingga leluhur mampu mewariskan pengalaman hidup yang terekam dalam deretan aksara dan bahasa Jawa yang tak lagi populer di masa kini.

Sěrat Cěnthini jilid II, pupuh Sinom: 31, “… wulan Ramêlan tan bêcik | tansah kangelan kang manah | ing lair tumêkèng batin | manggung kinirangan ugi | marang wong kang gêthing iku | akèh wong ingkang ewa | anênandur nora dadi | prayogane padha sira sigahana ||”. Artinya, “… (gerhana bulan) saat bulan Ramadhan adalah pertanda tidak baik, hati dan pikiran selalu cemas dan khawatir, lahir hingga batin, selalu merasa kekurangan, untuk orang yang selalu dengki, banyak orang yang menggila, bertani tidak akan panen, sebaiknya engkau semua berhati-hati.” Sementara dari kitab primbon Betaljemur Adammakna pun menjelaskan hal serupa. “Yen ana grahana srěngenge utawa rěmbulan ing sasi Pasa, ngalamat wong padha bungah-bungah, nanging banjur ana pagěblug.” Artinya, “Jika fenomena gerhana matahari atau bulan terjadi di bulan Ramadhan, itu pertanda orang-orang akan bersuka cita, akan tetapi selanjutnya akan datang wabah atau kekacauan.” 

(Gambar sampul kitab primbon Betaljemur Adammakna cetakan ke-62)

Selain tradisi tulis, masyarakat Jawa meyakini pula kisah yang dituturkan temurun. “Thěthěk, titik, titen –mengamati, meneliti, mengenali– bagi tradisi Osing dalam memaknai fenomena gerhana bulan saat Ramadhan ada beberapa hal, yakni sebagai isyarat akan datangnya pageblug atau wabah pada hewan ternak, seperti sapi, kerbau, kambing, dan sejenis uwas atau unggas. Hewan-hewan ternak itu akan terkena penyakit kulit yang disebabkan oleh Baong –sejenis siluman atau hewan mitologi berwujud kepala anjing sebagai penggambaran virus.

Lolongan Baong sebagai pertanda menyebarkan penyakit. Masyarakat Osing yang telah niteni atau mengenali fenomena ini akan menandai hewan ternak mereka dengan warna merah dari sumba –sejenis pewarna tradisional, berharap dengan warna merah menyerupai darah di tubuh hewan ternak mampu mengelabui Baong seolah-olah telah dimakan atau ditandai oleh Baong lainnya.

Gerhana bulan ini juga akan menyebabkan paceklik, pertanian akan mengalami gagal panen berkepanjangan. Yang terjadi selanjutnya adalah, uang tak lagi berlaku, karena produk telah rusak atau bisa dikatakan tidak ada, sehingga sebanyak apapun uang yang dimiliki tidak ada gunanya (peneliti asal Osing, Banyuwangi: Hariadi, komunikasi pribadi, 2 Maret 2026).” 

Kepekaan kita terhadap fenomena alam yang telah terjadi, sebenarnya mampu menjawab peristiwa yang terjadi kini. As above so below, tiada hal apapun terjadi karena kebetulan, karena segala gerak benda langit pasti berimbas kepada kehidupan makhluk di bumi.

Hablum minallah dan hablum minannas –konsep Islam tentang keseimbangan hubungan, yaitu hubungan baik dengan Allah SWT melalui ibadah dan kepatuhan (vertikal), dan hubungan baik dengan sesama manusia melalui akhlak mulia dan sosial (horizontal)– telah kita jalani, tapi terkadang kita melupakan hablum minalalam yang menekankan hubungan harmonis dan tanggung jawab manusia terhadap alam semesta.

Manusia sebagai khalifah, wajib menjaga, memelihara, dan mengelola lingkungan dengan bijak, bukan merusaknya, sebagai bentuk ibadah dan syukur kepada Allah SWT. Sebenarnya, peristiwa demi peristiwa yang terjadi kini tak terlepas dari hukum sebab–akibat.

AGUSTIN ARIANI
Filolog

Bagikan :

Advertisement