NYALANYALI.COM – Ketika rakyat jelata mati, tak ada ratusan papan duka cita dan keriuhan belasungkawa berhari-hari dari para tokoh dan selebritas negeri.
Tak ada yang menangisi selain keluarga dan sahabat sendiri. Tak diwartakan segala media hingga disorot hingga liang pemakaman, apalagi prosesi megah tembakan salvo. Mati dan dikubur. Itu saja.
Ketika rakyat jelata mati, tak ada yang menanyakan sebabnya lagi. Mati, mati saja. Terlambat pertolongan karena urusan tak punya BPJS, kecelakaan karena lubang-lubang di jalan yang menganga, hingga karena bersuara kemudian hilang tak juntrung rimbanya.
Di gedung dan halaman istana itu mereka menari-nari ketika harga beras melambung tinggi, makin susah terbeli, janji penuhi jutaan lapangan kerja tak dipenuhi, PHK makin sering terjadi, mereka terus menari hingga kabar kenaikan gajinya bisa menghidupi banyak jelata yang merintih ini hari.
Ketika rakyat jelata mati, tak banyak yang peduli. Terlindas mobil aparat yang dibeli dari pajak yang mereka beri. Maaf berkata di sana sini, yang di salahkan hanya pangkat rendahan sekali, sementara petinggi ongkang kaki, melihat rakyat mati setiap hari.
Ketika ini hari rakyat jelata mati, karena ingin menyuarakan aspirasi digilas mobil kecepatan tinggi, jelata mati karena mengingatkan sudah berkali-kali tapi mereka tutup nurani. Jelata mati bukan dalam aksi menjatuhkan petinggi dan alasan poltis tinkat tinggi, ia hanya mempertanyakan bagaimana nasib periuk nasi untuk keluarganya nanti. Itu saja, direpresi dan dihabisi.
Apa yang terjadi, selain amarah yang akan menggulung mereka yang disebut pejabat tinggi, mereka yang senang menari di atas derita rakyat yang memilihnya kemarin hari. Terlambat sudah memperbaiki diri, karena tak pernah belajar dari yang pernah terjadi. Tunggu karma yang terjadi.
Satu rakyat jelata mati, sakitnya dirasakan ratusan juta lainnya kini.
Jakarta, 29 Agustus 2025
S. DIAN ANDRYANTO

