Abadi Nan Jaya: Potret Kita Ini Hari

NYALANYALI.COM – Abadi Nan Jaya, tiga kata yang terdapat dalam lagu Indonesia Pusaka. Entah apa yang akan dikatakan Bang Maing atau Ismail Marzuki, lagu ciptaannya menjadi bagian film zombie.

Film Abadi Nan Jaya hingga ini hari ini sudah ditonton 11 juta penonton per hari ini sejak tayang 23 Oktober 2025 di Netflix. Singkat cerita, sebuah desa diteror zombi, mayat hidup, yang bisa menular.

Nonton film yang dibesut Kimo Stamboel ini, saya sok menjadi analis film dan mengaitkannya dengan problem sosial yang dihadapi masyarakat ini hari.

Awal mula, betapa keserakahan terhadap uang dan kekuasaan menjadi pemantiknya. Untuk mendapatkan untung sebanyak-banyaknya, apa saja diproduksi tanpa mempedulikan akibat bagi konsumen dalam kata besar adalah Rakyat atau praja dalam bahasa Sansekerta bukan projo.

Oligarki makin meraja, segala sistem dibuat berpihak pada pemegang kekuasaan dan uang.

Zombi, mayat hidup yang menular itu sungguh menjadi penyakit masyarakat yang terus berkembang biak, korupsi terus merusak, represif penguasa makin menjadi, demokrasi dikebiri, keadilan hanya wacana, kriminalisasi jadi senjata.

Semua terjadi di tengah kemiskinan, kebutuhan kesehatan dan pendidikan yang berpihak rakyat masih terus diusahakan, lapangan kerja yang dijanjikan jadi omong kosong, kesejahteraan hanya impian. Penyakit kronis zombi menular terus hingga strata terendah masyarakat. Penguasa bertindak semaunya, tanpa sadar ia menggali kuburnya sendiri dengan kebijakan yang “kocak” .

Aparat yang bertugas memberi perlindungan dan keamanan bagi rakyat, tak bisa berbuat banyak, bahkan menjadi bagian penyakit kronis mayat hidup ini. Menggigit dan menularkan momok mengerikan. Aparat jadi bagian kebobrokan moral. Tak bisa memberikan perlindungan dan keadilan bagi rakyatnya. Ia turut bersuka menjadi zombi.

Bahkan soal cinta yang dibangun suci, bisa ternoda, bahkan menjadi penyakit berbahaya karena tertular anggapan, asumsi, sorotan, gosip, hoaks yang berkembang dalam masyakarat.

Tak perlu waktu lama menularkan menjadi mayat hidup di dunia saat ini, dari desa terpencil dalam hitungan hari siap merambah metropolitan. Cepat sekali, bagai konten digital yang berlari kencang melebihi superhero Flash. Berita dan konten apa saja cepat tersebar tertangkap siapa pun tak pandang usia. Berita terverifikasi atau kabar bohong sama cepatnya tersebar.

Saya sok jadi analis film, bisa jadi semua salah tak seperti yang ingin disampaikan Kimo Stamboel. Saya hanya ketakutan sendiri, betapa negeri ini salah memaknai Indonesia Pusaka seperti yang diinginkan Ismail Marzuki, dalam lagunya.

S.DIAN ANDRYANTO

Bagikan :

Advertisement