Dingin menembus tulang, entah berapa kali wanita tua itu sibuk membetulkan letak selimutnya, kulit tangan yang berkeriput, jari-jari rapuh menunjukkan bahwa dia telah hidup dibanyak jaman.
Malam semakin gelap menyapa, pekat, tak telihat rembulan mengintip disana.
Terdengar suara batuk tersenggal yang sesekali ditahan dari dalam rumah itu. Rumah yang berhadapan dengan tempat yang kutinggali saat ini. Yah … rumah besar dengan hanya seorang nenek tua penghuninya.Tanpa anak ataupun suami yang menemani beliau, seorang diri hidup dalam sepi.
Berpuluh tahun keluarga kecil yang dikasihinya meninggalkan dia sendiri, bukan karena tak cinta tapi memang sudah kehendak Ilahi.
Berawal dari putri-putrinya yang pergi diusia dini, karena sakit jelasnya. Obat sulit didapat rumah mantri pun tidaklah dekat. Bisa ditempuh dengan sepeda kayuh yang hanya dimiliki oleh orang berada dijamannya.
Kalaupun terpaksa gerobak sapi atau dokar juga bisa tapi dengan banyak biaya.
Berjalan kaki saja, sambil sesekali berhenti melepas penat bila ingin bepergian kami, ujarmu satu waktu.
Satu persatu putri pergi meninggalkan mak niti, nama panggilan wanita tua itu. Disusul sang suami, lelaki pujaan hati, kekasih yang selalu menemani. Separuh nyawa yang tiada terganti.
Pergi ia, suaminya menghadap illahi, menyusul putri-putri mereka yang sudah menunggu dengan senyum bahagia dan uluran tangan penuh cinta menyambut orang tua tersayang.
Suara batuk itupun perlahan hilang hanya sesekali terdengar, desahan nafas tinggi rendah hilang dan pergi, mungkin mak niti sudah terlelap tidur. Satu dua jam hingga terdengar kokok ayam menyambut pagi. Ditemani malam dan dingin seorang diri bersama sepi.
Subuh telah lewat, seperti biasa kusegerakan langkah menuju pasar yang cuma berjarak seratus meter dari rumah.
Rutinitas pagi yang kulakukan, karena bila sedikit terlambat sudah pasti aku harus menambah banyak waktu untuk berdesak-desakan dengan banyak orang.
Lapak paling ujung yang berada di los tengah pasar itu masih sepi, malah kulihat orang lain yang menempati.
Rupanya mak niti belum sehat, sudah dua bulan ini beliau tak berdagang, berjualan lupis, kue tradisional yang hampir hilang digantikan kukis dan juga bronis.
Teringat aku akan batuknya semalam, mungkinkah mak niti kerinan, istilah yang biasa kami pakai bila bangun kesiangan. Ah, biarlah, kalau kerinan itu membuat sakitnya lebih ringan.
Tak tega aku bila harus melihatnya terpingkal-pingkal karena batuk dan nafasnya tersenggal. Wajar kalau terpingkalnya dia karena tertawa, tentu tak mengapa.
Kami bertetangga bergantian bertandang kerumahnya, memastikan bahwa beliau baik-baik saja.
Bukan karena ingin dipuji atau sekedar pencitraan, tapi memang kami bertetangga sudah seperti keluarga.
Giliran saja kami menjengguknya, seperti sudah diatur jamnya padahal tiada terencana, sesempat kami saja.
Mak Niti seorang diri, dengan tatapan kosong, mata menerawang jauh sekali.
Entah apa yang ada diangan-angannya, entah apa yang ada dibenaknya, entah apa pula yang direka-rekanya.Hanya senyum kecil dan lirikan sayu sebagai jawaban saat kutanya “Mak, apa yang sedang dipikirkan ?”
“Oalah nduk, aku kalau sakit begini terus bagaimana ? Kalau aku ngga bekerja lalu seperti apa ?”
Mak, kekhawatiranmu menusukku. Tak banyak kata yang keluar dari mulutku. Hanya ucapan-ucapan penyejuk dan gurauan kecil untuk mencoba menghiburmu.
Usia lanjut tak membuat semangatmu susut, gerak lincahmu membuat iri kami yang masih muda-muda ini.
Petuah bijak selalu terucap darimu, sejarah panjang penuh liku selalu ada dalam ceritamu.
Jatuh bangun dihidupmu sudah biasa, tapi selalu bangkit dan berusaha. Tak peduli sekitarmu berkicau apa.Terkadang kami terhibur dengan kepolosan dari ceritamu, tak jarang pula kami larut dalam haru biru.
Kesendirianmu tak lantas membuatmu terlarut, berlama dalam kesedihan dan mengasihani diri sendiri. Meski engkau sebatang kara didunia, namun hidupmu mulia, karena engkau tak mau dianggap kaum papa.
Kegigihanmu dalam berusaha dan berkarya membuktikan pada semua yang memandang sebelah mata pada dirimu mak. Mak, aku tahu bahwa kau merindukan anak-anakmu disisa-sisa hidupmu.
Tak pernah kau ungkap memang, tapi bahasa tubuh dan tatapan kosongmu sudah menjelaskan.
Juga perhatian dan cintamu pada kami mak, anak-anak dari tetanggamu yang lebih pantas kau sebut cucu.
Kekhawatiran dan kegelisahan yang selalu kau tunjukkan pada kami, bila sehari saja kau tak lihat kami lewat depan rumahmu, bahkan mungkin bayang-bayang kami selalu kau nanti.
Juga celotehan kecil anak-anak kami yang selalu memanggilmu “mbah niti”.
Itu sudah cukup untuk pengobat rindu, mungkin itu yang ada dibatinmu.
Kami masih merindu bau legit gulali dari dapurmu mak, juga jajanan lupis yang selalu jadi nomor satu. Cepat sembuh Mak, kami semua mencintaimu, kami semua bangga denganmu.
Naskah dan Foto: Dwi Ratnasari – Karangploso, Malang, Jawa Timur
e-mail: dwie_ratna@yahoo.com
Buku #sayabelajarhidup ke-11: NUSANTARA BERKISAH 2 – ORANG-ORANG SAKTI (2019)

