TUJUH PATUNG DI LUBANG BUAYA

NYALANYALI.COM – Tujuh patung di Lubang Buaya, di bawah garuda raksasa mereka ditempatkan.

Tak ada satupun wajah mereka yang menunduk, tak ada satupun wajah mereka yang menengadah. Wajah-wajah mereka menatap lurus ke depan menatapku,  menatapmu.

Kisah 52 tahun silam,  dini hari tadi. Tujuh manusia direnggut kemanusiaannya di malam jahanam, saat para durjana merancang sebuah gerakan berbahaya mengancam keutuhan negeri.

Kisah yang mulai coba dikaburkan. Cerita yang mulai diputarbalikkan. Menipis hilang dalam buku sejarah anak-anak, tentang G30S/PKI. Tak banyak yang tahu lagi generasi kini hikayat kelam di Lubang Buaya. Jika tak diingatkan kembali,  maka catatan gelap itu perlahan tak punya tempat dalam rongga ingatan mereka.

Malam 52 tahun lalu,  sungguh ada, sungguh nyata, masih ada saksi-saksi berkisah. Bukan cerita horor film dan komik. Bukan permainan dalam game online. Bukan dongeng yang menakut-nakuti mereka sebelum tidur. Anak-anak harus belajar dan tahu, agar sejarah ini diingat selamanya. Tak bisa dibengkak bengkokkan siapapun juga.

Mereka memang tujuh patung membisu. Di Lubang Buaya tempatnya. Muara segala cerita kelam,  sebelum 1965 dan sesudahnya.

Jenderal TNI Anumerta Achmad Yani,  Letnan Jenderal TNI Anumerta Raden Suprapto, Letjen TNI Anumerta Mas Tirtodarmo Haryono, Letjen TNI Anumerta  Siswondo Parman,  Mayor Jenderal Anumerta Donald Isac Panjaitan, Mayor Jendral TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo, Kapten CZI Anumerta Pierre Andreas Tendean.

Gugur mereka. Kesuma bangsa. Doa bertabur di udara Nusantara. Bagi mereka yang menghargainya,  menghormatinya,  menganggapnya ada hingga saat ini.

Tujuh patung di Lubang Buaya.  Mereka diam, bukan tak bisa bicara.

1 Oktober 2017
S. DIAN ANDRYANTO
Penulis 11 Buku Serial #sayabelajarhidup

Bagikan :

Advertisement