Delapan Hari Jiwaku Bicara

Abhipraya Senja dan Arunika

Bulan dan matahari berganti tinggal dihitung berapa kali
Menyapa dalam senyum atau panas membara
Kadang sejuk, lembut berwaktu-waktu
Kadang cerah ceria atau sendu abu-abu
Coba, mari kita hitung
Tiga puluh kali dua belas kali enam puluh ditambah dua puluh enam
Berapa?
Jumlah yang tak semua orang punya

Fabiayyi Ala Irabbikuma tukazziban

Pernah aku berjalan dengan asa yang nyaris putus di depan garis itu
Pincang, gamang dan gagu tapi harus terus melaju
Nafas terengah satu-satu, lelah
Tak ada lagi ingin apa lagi hendak
Ingin terpejam dan sudah

Kemudian delapan hari, jiwaku bicara :

wahai diri , mari kita bekerja sama
berjalan, berbicara, berkarya torehkan prasasti, jejak kita
habiskan masa dengan sabar
sampai waktunya tiba
karena ternyata bukan hari ini
mari kumpulkan bekal, sebab nanti tak lagi bisa

Wahai diri
Ini sekadar jejak, seperti yang kubilang tadi
Jejak di dua puluh satu ribu enam ratus dua puluh enam senja dan arunika
Masih menyapa dan setia,
mari syukuri
“Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang akan kau dustakan?”

Jakarta, 21 Maret 2021

NUNING INDRIASTUTI SUDARMO – Jakarta
Penulis, Pensiunan Guru

BACA:
Pelajaran Sains Kelas 1 SD
Sekarang Aku Punya HP Baru
Masih Sayang

Bagikan :

Advertisement