Pilihan Tutup Buku Pak Wawan

NYALANYALI.COM, Kisah – Selasa sore, telpon berdering, sambil terisak, tersengar suara saudara meminta bantuan karena sudah tiga bulan tidak bisa membayar kontrakan, akibat di PHK. Saya sampaikan, akan coba bantu carikan dana, karena keuangan keluarga pun sedang ketat, setelah menyuntik modal ke usaha mi ayam.

Hampir tiap jam, isteri dan saudara menelepon menanyakan hasilnya. Saya mencoba ke sana ke mari mencari, siapa tahu ada yang lapang dan bisa membantu. Sampai pukul 20.00, saya tidak dapat bantuan dana.

Saking bingungnya, saya akhirnya keluar rumah sambil sekalian beli bahan-bahan untuk toping dagangan, saya sempatkan mampir ke musola kecil di komplek Pondok Kelapa, karena belum salat Isya. Ah, siapa tahu masih buka, waktu sudah menunjukkan pukul 22.00.

Ketika masuk untuk salat, saya melihat seorang tua, juga tengah duduk, berzikir, sepertinya saya mengenalnya. Kemudian, saya lama berzikir. Saya pasrahkan semua ke Sang Pemilik Waktu.

Lama sekali saya hanyut. Saya tersadar ketika ponsel berdering, pesan dari saudara masuk, saya tulis, “masih mengusahakan”.

“Kenapa Mas Hadi?” sapa suara lembut si Bapak tua yang tadi pun tengah berzikir itu.

Ya Allah, ternyata Bapak tua itu Pak Wawan, pantas saya sepertinya kenal. Ia satu RW tapi beda RT, sering ketemu ketika ada acara-acara warga sebelum pandemi ini.

“Ayolah ..sampaikan ada apa?…kelihatan kok ada masalah berat, saya denger loh, Mas menangis tadi,” kata Pak Wawan.

Akhirnya, saya ceritakan kepadanya kerisauan hati. Lama kami mengobrol. Pak wawan kemudian tersenyum, “Mas Hadi, saya mau tanya sama Mas….menghalangi orang sedekah dan bantu orang, dosa nggak?”

Walau aneh pertanyaannya, tapi saya jawab. “Ya, dosa Pak, menghalangi perbuatan baik”.

“Ok, Mas Hadi, saya minta nomor  rekening Mas atau saudara Mas. Saya transfer uang kontrakannya sama ada sedikit bantuan dari saya, Saya ikhlas sedekah,” kemudian Pak wawan mengeluarkan ponselnya.

“Saya kaget..Pak, serius..Bapak kan belum kenal saya lama”

“Mas Hadi, dalam kondisi pandemi seperti ini, saya tidak tahu apakah saya tidak sakit kena virus dan masih hidup besok. Saya hanya ingin ketika saya dipanggil ‘pulang’, catatan buku amal saya yang terakhir adalah saya sedekah.”

Saya terdiam. Saya serahkan nomor rekening saudara saya. Tak menunggu lama, Pak Wawan langsung mentransfer sejumlah Rp 5,5 juta.

“Ayo kita pulang,” kata Pak Wawan. “Mas bawa motor kan, anterin saya pulang ya,” kata dia.

Rumah Pak Wawan ini tidak jauh. Saya mengantarnya pulang, sampai depan rumahnya. Sebelum saya berlalu, Pak Wawan menyelipkan uang ke kantong, “Saya pesen mi ya, besok siang anterin ke rumah.”

Dan, saya tepati itu, Sekitar pukul 10.30, saya bergegas ke rumah Pak Wawan. Saya bawa tujuh porsi mi pesanannya.

Sampai dekat rumahnya, saya kaget. Ada banyak orang sedang duduk. Bendera kertas kuning berkibar. Penanda ada kematian.

Saya bergegas masuk, dan betapa terkejutnya saya melihat papan yang mengumumkan Pak Wawan, Bapak yang dermawan dan ikhlas itu telah berpulang jam 12 semalam. Beberapa jam setelah saya antar ia pulang.

Saya bertemu dengan isterinya, tampak sedih tapi tenang.  Bu wawan bercerita sepulang dari musala, suaminya duduk di kursi baca sambil membaca kitab tafsir, dan bercerita barusan membantu orang dan juga pesen mi ayam. Kemudian minta dibuatkan jahe hangat

Ketika Bu Wawan kembali dengan jahe hangat, tampak Pak Wawan sambil mendekap kitab, terlihat tertidur, dicoba dibangunkan tetap tidak bangun, barulah isterinya tersadar beliau sudah ‘pulang’.

Saya benar-benar lemas. Saya menangis sesenggukan. Air mata tidak kuasa saya tahan. Gemetar tangan dan badan saya. Kemudian saya serahkan amanat pesanan mi ayam Pak Wawan.

Banyak hikmah yang saya temui dan dapatkan walau tidak lama saya mengobrol dengannya.

“Mas inget ini, jangan kamu tolak orang yang datang ke kamu untuk minta bantuan, padahal kamu lapang, karena bisa jadi dia digerakkan oleh Allah untuk datang ke Mas, untuk meminta haknya atas harta Mas. Ingat di sebagian harta kita ada hak orang yang membutuhkan. Jangan sampai takut kehilangan yang tidak seberapa, Mas malah bisa kehilangan yang jauh lebih banyak, karena tidak mengeluarkan hak orang atas harta Mas”.

Selamat Jalan Pak Wawan, orang-orang seperti Bapak sudah sangat langka di zaman ini.

Eko Hadi Sulistia – Pondok Kelapa, Jakarta Timur
Pemilik Usaha Mi Ayam “Dah Mamam?”

BACA:
Banting Setir Bertahan di Tengah Pandemi

Bagikan :

Advertisement