NYALANYALI.COM – “Kami memperhatikan ki jaran terlebih dulu sebelum menentukan musim tanam. Mau kedelai, cabe, jagung, atau padi tentunya membutuhkan volume air berbeda. Tahun ini kami tidak jadi menanam palawija, karena beberapa minggu terakhir ini daun ki jaran tidak lagi menguning dan rontok, tapi malah banyak tunas baru, artinya tahun ini kemaraunya pendek dan penghujan berlanjut lagi. Kami sangat berbantu, berkat ki jaran kami tidak akan salah mangsa (petani asal Sidoarjo, Jawa Timur: Hariadi, komunikasi pribadi, 19 Mei 2025).”
Pohon ki jaran–umumnya disingkat jaran–atau kuda (Lannea coromandelica) adalah sejenis pohon dalam keluarga Anacardiaceae yang tumbuh di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Di berbagai daerah, pohon ini memiliki nama lain seperti: kedongdong laki, kedongdong pager (Betawi); kadondong lalaki (Sunda); ki jaran, jaranan, kudo (Jawa); santen (Osing); kayu jawa, kayu cina, tamatte (Sulawesi); reo (Flores); banten (NTT) dan sebagainya.
Pohon jaran umumnya ditanam sebagai peneduh jalan sekaligus pagar alam pembatas sawah atau ladang. Manfaat pohon ini ternyata cukup banyak, selain getah pohon yang digunakan sebagai pulut atau perekat untuk menangkap burung dan serangga jenis capung dalam permainan tradisional, ternyata pohon jaran dimanfaatkan petani tradisional sebagai petunjuk alam dalam menentukan musim tanam.
Pertanian tradisional Jawa menggunakan kalender pranata mangsa–penanggalan yang berkaitan dengan musim, khususnya dari kalangan petani dan nelayan–yang terbagi menjadi 12 dengan kisaran usia 23–43 hari. Kesamaan kalender mangsa dengan kalender Gregorian–kalender yang digunakan di sebagian besar belahan dunia–memiliki indikator atau tafsir alam berbeda-beda di tiap periode, antara lain:
| Mangsa | Mangsa Utama | Rentang Waktu | Candra | Indikator/ Tafsir alam | Petunjuk bagi Petani | Bintang Petunjuk |
| Kasa (Kartika) | Ketiga–Terang (Kemarau– Terang) | 22 Juni – 1 Agustus (41 hari) | Sotya murca saka embanan | Dedaunan gugur, binatang sejenis belalang mulai membuat rumah di dalam tanah (ngerong). | Saatnya membakar jerami (damen) yang tertinggal di sawah; mulai menanam palawija. | Sapi gumarang |
| Karo (Pusa) | Ketiga–Paceklik (Kemarau– Langka makanan) | 2 – 24 Agustus (23 hari) | Bantala rengka | Permukaan tanah retak (nelo), pohon-pohon randu dan mangga mulai bersemi. | Palawija mulai tumbuh. | Tagih |
| Katelu (Manggasri) | Ketiga–Semplah (Kemarau–Cuaca tak menentu) | 25 Agustus – 17 September (24 hari) | Suta manut ing bapa | Tanaman yang menjalar (ubi) tumbuh. | Palawija mulai dipanen. | Lumbung |
| Kapat (Sitra) | Labuh–Semplah (Peralihan kemarau ke ujan–Cuaca tak menentu) | 18 September – 12 Oktober (25 hari) | Waspa kumembeng jroning kalbu | Sumber air banyak yang kering, pohon randu berubah warna, burung-burung kecil mulai bertelur. | Panen palawija; saat menggarap lahan untuk padi gaga. | Jaran duwuk |
| Kalima (Manggala) | Labuh–Semplah (Peralihan kemarau ke ujan–Cuaca tak menentu) | 13 Oktober – 8 November (27 hari) | Pancuran emas sumawur ing jagad | Mulai musim hujan, pohon asam mulai bersemi (berdaun muda=sinom), ulat dan sejenisnya mulai berkembang biak. | Selokan sawah diperbaiki dan membuat pengairan air di pinggir sawah; mulai menyebar padi gaga. | Banyak angrem |
| Kanem (Naya) | Labuh–Udan (Peralihan kemarau ke hujan–Hujan) | 9 November – 21 Desember (43 hari) | Rasa mulya kasucian | Musim buah-buahan tiba (durian, rambutan, dan mangga); burung-burung belibis mulai menampakkan diri di kolam-kolam/ rawa-rawa. | Para petani menyebar benih padi di pembenihan. | Gotong mayit |
| Kapitu (Palguna) | Rendheng–Udan (Penghujan–Hujan) | 23 Desember – 3 Februari (43 hari) | Wisa kenter ing maruta | Hujan deras dan sungai meluap; banyak bermunculan penyakit. | Saat memindahkan bibit padi ke sawah (tandur). | Bimasakti |
| Kawolu (Wisaka) | Rendheng–Pangarep-arep (Penghujan–Menjelang panen) | 4 – 28/29 Februari (26/27 hari) | Anjrah jroning kayun | Lundi (uret) mulai berkeliaran; periode kawin beberapa binatang. | Tanaman padi mulai menghijau. | Wulanjar ngirim |
| Kasanga (Jita) | Rendheng–Pangarep-arep (Penghujan–Menjelang panen) | 1 – 25 Maret (25 hari) | Wedharing wacana mulya | Binatang jenis jangkrik mulai menampakkan diri dan bersuara; kucing mulai membiak. | Padi mulai berbunga, bahkan ada yang telah berbuah. | Wuluh |
| Kasepuluh (Srawana) | Marèng–Pangarep-arep (Pancaroba–Menjelang panen) | 26 Maret – 18 April (24 hari) | Gedhong minep jroning kalbu | Burung-burung kecil mulai menetas; beberapa jenis binatang ternak bunting. | Padi mulai menguning dan waktunya memanen padi gogo. | Waluku |
| Desta (Padrawana) | Marèng–Panèn (Pancaroba–Panen) | 19 April – 11 Mei (23 hari) | Sotya sinara wedi | Beberapa jenis binatang ternak beranak dan menyuapi anaknya (ngloloh). | Saat panen raya génjah (panen untuk tanaman berumur pendek). | Waluku |
| Sada (Asuji) | Marèng–Terang (Pancaroba–Terang) | 12 Mei – 21 Juni (41 hari) | Tirta sad saking sasana | Orang sukar berkeringat. | Petani menjemur padi dan menyimpannya di lumbung, yang tertinggal di sawah hanya damen; saatnya menanam palawija: kedelai, nila, kapas; saatnya menggarap tegalan untuk menanam jagung. | Tagih |
Mangsa selalu berjalan mengikuti siklus alam, tapi terkadang kita mendapati peristiwa salah mangsa, sebagaimana contoh di akhir Maret seharusnya akhir dari mangsa rendheng dan digantikan mangsa marèng, indikatornya adalah curah hujan mulai rendah dan petani berharap panen akan segera tiba, tapi realita yang terjadi adalah curah hujan masih cukup tinggi dan intens, sehingga akan berdampak pada hasil panen. Apa yang sebenarnya terjadi? Salahkah leluhur dalam menghitung sistem horoskop? Atau adakah penyebab lain hingga berdampak pada perubahan siklus musim?
Kondisi alam di bumi sangat dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi di langit, sehingga pergerakan apapun pada benda-benda langit akan berdampak pada kehidupan makhluk di bumi. Kalender pranata mangsa dapat berubah sewaktu-waktu seiring dengan peristiwa yang terjadi di langit. Sebagaimana fenomena bulan purnama, gerhana bulan dan matahari, sejajarnya posisi planet-planet di tata surya, atau hujan meteor akan berdampak pada perilaku tumbuhan dan hewan, sehingga petani tradisional harus memprediksi ulang aktifitas tanamnya. Lalu, adakah indikator lain yang dapat digunakan sebagai petunjuk alam?
Segala fenomena alam di masa lalu telah tersimpan dalam memori kolektif masyarakat. Sinyal-sinyal alam itu ditafsir sebagai penanda akan terjadinya sesuatu. Selain dicatat dalam tradisi tulis, tafsir alam tersebut diabadikan pula dalam tradisi tutur yang diturunkan lintas generasi hingga kini.
Tumbuhan dan hewan dianggap memiliki tingkat kepekaan tinggi terhadap peristiwa alam, salah satunya pohon jaran yang digunakan petani tradisional sebagai penentu musim tanam, yakni dengan menandai daunnya. Jika daun mulai menguning menandakan tibanya mangsa marèng. Selanjutnya, jika dedaunan mulai rontok hingga menyisakan dahan yang kering, maka mangsa ketiga akan bertahan lebih lama. Cara kerjanya adalah cadangan air dalam tanah telah menipis, sehingga warna daun tidak lagi berwarna hijau segar, sebagai solusi bertahan hidup adalah dengan mulai menggugurkan dedaunan untuk menghemat cadangan makanan di akar dan batang. Sementara itu, jika dedaunan mulai bertunas kembali, maka mangsa rendhěng pun tiba, karena air di dalam tanah mulai melimpah.

Memperhatikan fenomena alam, 2025 diprediksi mengalami siklus kemarau lebih pendek dari tahun sebelumnya, sedangkan siklus hujan akan lebih panjang. Prediksi terbaca dari dedaunan pohon jaran yang mengalami masa gugur cukup singkat dan tergantikan masa tunas lebih cepat, padahal jika berpedoman pada kalender pranata mangsa seharusnya mulai Maret akan memasuki mangsa marèng dan berlanjut ketiga, yang mana indikator alamnya seharusnya dedaunan mengalami masa gugur cukup lama. Hal ini jelas berpengaruh pada aktifitas bertani, karena tidak dapat memaksakan musim tanam sesuai mangsa agar tidak mengalami gagal panen.
Membaca tetenger atau petunjuk alam sangat penting dilakukan demi menimimalisir kegagalan panen. Local genius dapat menjawab klaim terjadinya salah mangsa sebagai kesalahan leluhur dalam menghitung siklus alam. Local genius dapat pula menjadi solusi jika suatu saat negeri gimah ripah loh jinawi ini mengalami krisis pangan tanpa harus dipaksa mengeluarkan kebijakan impor.
AGUSTIN ARIANI (Filolog & Peneliti Independen).

