NYALANYALI.COM, Kisah – Benar. Guru itu tersebar di banyak lapang. Buka jendela, alam segera mengguruimu. Keluar pintu, maka guru-guru menyambut sepanjang perjalananmu. Diam saja, para guru merakit di benakmu.
Putu Wijaya, budayawan, sastrawan dan tokoh teater ini adalah guruku. Sejak jauh hari, puluhan tahun lalu. Berkali aku mewawancarainya, kemudian memimtamya menuliskan kolom di majalahku bekerja dulu. Pagi pesan, sore tulisan. jadi. Tepat waktu. Bagaimana bisa? Bukankah menulis perlu perenungan dan kedalaman dan waktu berkepanjangan?
Mas Putu Wijaya menjawab enteng saja ketika itu. “Kedalaman itu ada dalam diri kita. Bukan ditentukan orang lain. Menunggu mood menulis? Ah, itu hanya alasan saja supaya kita tidak bersegera menulis,” katanya berpuluh tahun lalu, sambil tertawa.
Ajaib memang dia. Melihat pintu saja bisa jadi tulisan. Warna biru jadi tulisan. Kotak jadi tulisan. Apa saja bisa jadi tulisan indah dan bernas. Dia adalah guruku.
Mas Nano Riantiarno juga budayawan, aktor, tokoh teater, pekerja media pula. Dia guruku. Berpuluh tahun lalu pula pernah menjadi bosku. Anak baru yang hanya bisa memandang kagum. Mendekat grogi. Disapa saja girang. Tulisannya mengajarkanku menulis seperti melagu, ada iramanya. Memainkan kata seperti anak kecil mandi bola. Harus terasa riang menuliskannya seperti jiwa yang bicara. Jujur yang ditulis. Bukan kabur.
Slamet Rahardjo, aktor, pekerja seni ini pun guruku. Berbincang lama dengannya akan muncul konsep budaya sebagai kekuatan bangsa ini sejatinya. Waktu tak akan cukup menyerap gagasannya. Dia idola dimasanya, tak sombong karenanya.

Kemarin malam aku menemui Mas Putu Wijaya Dan Mas Nano Riantiarno. Sayang, Mas Slamet sedang keluar kota. Buku-buku #sayabelajarhidup EMPATI SIMPATI HARMONI kuserahkan. Karena ada kata-kata sakti dari mereka. Salam takzim murid kepada guru-gurunya. Tanpa inspirasi mereka aku tak menghasilkan apa -apa…
PUTU WIJAYA-“#sayabelajarhidup ditulis dengan kepekaan yang deras, tangan yang terlatih dan jam terbang panjang, serta kerendahan hati “
N.RIANTIARNO – “S. Dian Andryanto mempelajari kehidupan. Apa yang dia lakukan adalah kenyataan yang menjadi metafora”.
SLAMET RAHARDJO – “Lebih jauh dari itu. Buku ini membentuk imaji yang menyiratkan rasa kemanusiaan”
10 Desember 2015
S. DIAN ANDRYANTO
Penulis #sayabelajarhidup

