Menikmati Kebinekaan dari Pedalaman Kalimantan

NYALANYALI.COM, Kisah – Pendidikan sangatlah dinamis. Pemerintah menjawab era disrupsi ini dengan kurikulum terbaru, kurikulum 2013. Banyaknya jumlah sekolah, variasi mutu guru/mutu sekolah, dan kondisi geografis adalah tantangan penerapan kurikulum di Indonesia. Hal ini terasa pula di Kabupaten Seruyan. Satu-satunya kabupaten tertinggal dari 13 kabupaten & 1 kota di Kalimantan Tengah. Melatihkan kurikulum ke pelosok-pelosok Seruyan, akan menjadi hal yang sangat mendesak sekaligusmenantang.

Gerimis tipis,tapi cukup membuat pakaian basah. Keseruan membelah sungai, berpadu dengan rasa takut. Takut batuan-batuan sungai mengaramkan kapal ini. Masih sohor, kabar kecelakaan di air: Anggota DPRD yang tewas kelelahan, setelah selamatkan biduan dangdut, usai kampanye. Juga peristiwa anak yang terlempar dari kapal dan mengapung nahas, kehabisan napas.

Desa yang kami tuju bernama Tanjung Paku. Desa paling hulu di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Setelah didata, masih ada sekolah yang belum mendapatkan pelatihan kurikulum 2013. Jadi, Kamilah yang diamanahi untuk diskusi mengenai kurikulum di sana.

Total waktu perjalanan yang harus ditempuh adalah 6 jam di darat & 5 jam di air. Padahal kami berangkat dari Kecamatan Seruyan Raya, yang bertetangga kecamatannya dengan lokasi Desa Tanjung Paku, Kecamatan Seruyan Hulu. Perjalanan pun, tak bisa sekaligus. Karena berganti-ganti moda, dari mobil ke perahu. Perahu yang digunakan pun berganti-ganti menyesuaikan kondisi sungai. Jika sungai pasang dan lebar, kami pakai speed boat. Jika sungai mulai dangkal dan menyempit, kami ganti ke perahu ces.

Selain bersiap turun dari perahu jika ada batuan. Kami juga harus siap, jika harus bermalam di desa-desa setempat. Karena seringkali perahu yang akan kami naiki, rusak atau sedang dipakai orang lain.

Segala kesulitan adalah bumbu, dari perjalanan yang memperkaya rasa.Udara bersih, air jernih, burung tingang mengudara, bekantan mengaso, dan durian berjatuhan di atas sungai.Keramahan, kekayaan, dan kepedulian masyarakat pun sangat berkesan. Variasi bahasa Dayak yang tinggi. Beda desa, beda bahasa. Ada bahasa Dayak Kahayan, Keninjal, Melahoi, dan Kuhin. Tapi untuk saya, masyarakat berbaik hati menggunakan bahasa Indonesia. Istimewanya, seterpencil apa pun, masyarakat Dayak bisa berbahasa persatuan Nusantara.

Setibanya di Desa Tanjung Paku. Kami disambut, bebukit berkabut &mata air Sungai Seruyan. Kami pun dijamu dengan akrab oleh kepala sekolah, Pak Alemsyah, putra desa yang menjadi sarjana pertama.

Di Tanjung Paku yang tak berlistrik, tak bersinyal, dan sulit dijangkau ini. Kebinekaan sangatlah nikmat terasa. Mulai dari menyembelih sendiri ayam agar halal, sampai diskusi kurikulum dengan Guru Garis Depan (GGD) yang ditempatkan oleh pemerintah, sebagai penanda keberpihakan pada sekolah-sekolah terpencil. Kami, guru dari Magelang, Gorontalo, Yogya, Bandung, Ketapang, dan Seruyan, belajar berkontribusi untuk negara di kaki Pegunungan Muller-Schwaner.

PANJI IRFAN
Buku #sayabelajarhidup ke-11 Nusantara Berkisah 02: Orang-orang Sakti (2019)

Bagikan :

Advertisement