NYALANYALI.COM, Kisah – Telunjuknya mengarahmu, tepat dijantungmu. Menusuk ke-Indonesiaanmu, menghunjam ke-Nusantaraanmu. Hingga engkau tak berkutik, lagi.
Patung Diponegoro di Monas seberat 8 ton perunggu ini, buah cinta seorang Mario Pitto, pengusaha Italia kepada negeri ini. Tempat yang tidak setiap hari udaranya ia hisap, tak tiap saat langkahnya menapaki tanah ini, tak tiap waktu airnya diminumnya. Kagum ia pada negeri ini, sekagum itukah kita melebihi Pitto pada ini negeri?
Prof Cobertaldo, pemahat Italia diminta Pitto mewujudkannya. Ia membaca tentang Diponegoro, hingga ia tahu benar perjuangannya. Ia masuk dalam semangat kepahlawanannya, terus mencari tahu tentang Diponegoro, Pendekar Goa Selarong itu. Sudah sekeras diakah kita mencoba menggali pahlawan negeri sendiri? Lebih cepat mana kita sering berkelahi dibanding merenung cita-cita pendiri negeri?
Cobertaldo sampai pada akhirnya, tangannya berkisah menghadirkan sosok Diponegoro dalam patung perunggu itu. 1963 tahun pembuatannya. Juli 1965, patung itu sudah diposisinya, tapi tak kunjung diresmikan Soekarno karena gonjang ganjing negeri. Hingga sakit dan meninggalnya pada 1968, Mario Pitto penderma patung Diponegoro tak pernah melihat lagi bingkisannya untuk Indonesia ini.
Sekarang, lalu lalang orang di sekitar patung. Hanya jadi backgroud foto selfie. Jangan sampai anak cucu tak tahu karena besar cinta Pitto pada Indonesia sebab patung itu ada di sini, menjadi wabah jika kemudian generasi berikutnya tak tahu pula patung siapa lelaki berjubah penunggang kuda yang menunjuk itu. Dia bukan Zorro. Jika itu jawaban mereka, kiamat sudah kebangsaan kita.
Diponegoro menunjukkmu. Tepat dijantungmu. Mengajakmu kembali, mencintai negerimu. Mengajakmu kembali, jangan pergi lagi, dan berpaling.
Diponegoro menunjukkmu, bukan orang lain. Tepat di jantungmu.
18 Maret 2017
S. DIAN ANDRYANTO
Penulis #sayabelajarhidup

