NYALANYALI.COM – Pada 15 Agustus 2026 sekitar pukul 05.58 WITA, pulau Flores diguncang gempa dasyat berkuatan M7,7. Guncangannya hanya berlangsung beberapa detik, tetapi efeknya mengubah kehidupan masyarakat pada berbagai bidang.
Korban berjatuhan, data awal yang dilaporkan pada siang hari di tanggal 15 Agustus 2026, 17 orang meninggal dunia. Rumah-rumah rusak dan tidak bisa ditempati, fasilitas kesehatan dan sekolah banyak yag hancur. Rumah ibadah pun tidak luput dari kerusakan. Di sejumlah wilayah, terutama kawasan pantai utara Manggarai Timur, selain karena rumah yang hancur, sebagian besar masyrakat juga meninggalkan rumah dan mengungsi dalam keadaan panik karena juga ketakutan akan bahaya tsunami.
Setelah guncangan gempa dan bencana, yang terlihat bukan hanya kerusakan fisik; tetapi juga ketakutan, kehilangan, ketidakpastian, dan keraguan akan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup kedepannya.
Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur menetapkan status tanggap darurat pada 16 Agustus 2026. Status tersebut kemudian diperpanjang dua kali hingga 20 September 2026. Perpanjangan dilakukan karena kondisi di lapangan masih membutuhkan penanganan darurat, sementara gempa susulan terus terjadi dan jumlah masyarakat yang membutuhkan bantuan terus berkembang. Sampai dengan tanggal 15 September 2026, BMKG mencatat jumlah gempa susulan mencapai 15.772.
Data terakhir yang dirilis Pusat Data Posko Bencana Kabupaten Manggarai Timur per 28 September 2026 pukul 18.00 WITA mencatat 10.140 orang mengungsi yang tersebar di 12 kecamatan. Sebanyak 404 orang mengalami luka ringan, 239 orang luka berat, dan 53 orang meninggal dunia. Sementara kerusakan fisik tercatat mencapai 31.940 unit.

Angka-angka itu tentu tidak sekedar angka statistik tentang apa yang terjadi di lapangan. Angka-angka ini adalah gambaran tentang ketakutan dan kebutuhan dalam setiap keluarga, pekerjaan dan rumah beserta isinya yang hilang, , sekolah, fasilitas kesehatan, tempat ibadah dan kehidupan yang harus ditata ulang.
Kerja Dimulai Sejak Hari Pertama
Sejak hari pertama, Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur bergerak melakukan penanganan awal. Hari pertama gempa, dalam kepanikan dan segala keterbatasan, pemerintah kecamatan dan desa segera melakukan pendataan dan mengirimkan laporan kondisi lapangan. Pemerintah Kabupaten di Borong melaksanakan rapat kordinasi pada kesempatan pertama, memetakan daerah terdampak dan melaksanakan pembagian tugas. Pada 16 Agustus 2026, bantuan mulai disalurkan. Bupati, Wakil Bupati, Sekretaris Daerah bersama ASN turun langsung ke sejumlah lokasi terdampak; menemui masyarakat, membantu proses evakuasi, menyalurkan logistk dan kebutuhan awal para korban. Kordinasi, komunikasi awal dilaksananakan dan laporan disampaikan kepada semua pihak terkait, terutama dengan pemerintah pusat. Pos Komando Penanganan Bencana Alam Flores Kabupaten Manggarai Timur dibentuk pada kesempatan pertama sebagai pusat data dan informasi.
Pada tahap ini, kebutuhan paling mendesak bukanlah membuat laporan yang sempurna. Yang dibutuhkan adalah memastikan masyarakat yang terluka mendapatkan pertolongan, korban dapat dievakuasi, masyarakat memiliki tempat berlindung dan kebutuhan dasar dapat dipenuhi. Semua berjibaku dengan kondisi pasca bencana dan gempa susulan yang terus terjadi. Pemerintah daerah kemudian menggunakan Belanja Tidak Terduga atau BTT sebesar Rp200 juta untuk mendukung penanganan awal, terutama kebutuhan logistik, evakuasi korban, tenda darurat dan kebutuhan lain sesuai kondisi masa tanggap darurat.
Kerja seperti ini sering kali tidak terlihat.
Tidak semua proses evakuasi terekam kamera. Tidak semua rapat koordinasi dan pelaporan menjadi konten atau dipublikasikan di media. Banyak kerja-kerja distribusi bantuan, terutama pada jam-jam malam atau situasi melelahkan, yang tidak didokumentasikan untuk dipajang di media sosial. Sebagian besar pemerintah desa dan kecamatan termasuk para ASN dan relawan lokal juga terdampak bencana. Tetapi pekerjaan itu tetap harus dilakukan karena ini tentang tanggung jawab dan profesionalisme ditambah dengan rasa kemanusiaan pada mereka yang dipikir “lebih terdampak”
Ketika Bantuan Besar Datang, Tantangan Besar Juga Mengikuti
Dukungan pemerintah pusat adalah bagian penting dalam penanganan bencana. Bantuan berupa tenda-tenda pengungsian, logistik, tenaga kesehatan dan obat-obatan, SDM yang membantu agar data sesuai dengan standar dan banyak bentuk dukungan lainnya. Selain itu, bersama kabupaten lainnya yang terdampak, Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur memperoleh dukungan anggaran sebesar Rp20 miliar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak pada masa tanggap darurat.
Anggaran tersebut sebagian sudah dibelanjakan untuk kebutuhan masyarakat. Namun, dalam kondisi bencana, memiliki anggaran tidak otomatis berarti semua kebutuhan dapat langsung tersedia apalagi sesuai keinginan perorangan atau kelomppok.
Ada barang yang tidak tersedia di Manggarai Timur dan harus didatangkan dari luar daerah. Belum lagi keterbatasan waktu pengadaan sesuai aturan yang berlaku, ditambah kondisi geografis Manggarai Timur yang cukup berat sehingga distribusi bantuan tidak selalu bisa tiba secepat yang diharapkan.
Dalam pengelolaan anggaran, Pemerintah harus berhadapan dengan dua kebutuhan sekaligus yaitu bergerak cepat memenuhi kebutuhan masyarakat dan tetap mengikuti ketentuan pengelolaan keuangan dan pengadaan barang. Ini adalah dua hal yang harus bisa diseimbangkan, bahkan saat kondisi bencana sekalipun. Ini adalah sebagian dari kompleksitas penanganan bencana sering kali tidak terlihat dan tidak dipahami masyarakat. Serapan anggaran yang belum maksimal juga tidak berarti pemerintah tidak bekerja.
Masyarakat fokus pada bantuan sudah tiba atau belum, kenapa belum sampai di tempat kami dan kenapa saya tidak mendapatkan cukup atau sebanyak yang saya butuhkan. Sedangkan Pemerintah harus memikirkan dari mana barang diperoleh, bagaimana proses pengadaan dan distribusinya, siapa yang paling berhak untuk menerimanya dan bagaimana seluruh proses tersebut juga harus tetap dapat dipertanggungjawabkan sesuai aturan yang berlaku.
Salah satu hal yang tetap disyukuri dari bencana gempa kemarin adalah banyaknya solidaritas yang ditunjukan dan diberikan.
Bantuan dari banyak pihak berdatangan ke Manggarai Timur. Banyak rupa bantuan yang juga diberikan; sembako dan kebutuhan logistik, pakaian layak pakai, obat-obatan, peralatan penunjang kehidupan di pengungsian hingga tenaga kesehatan. Bantuan juga diberikan dalam bentuk dukungan psikologis untuk melawan trauma terutama pada anak-anak, dukungan kesehatan reproduksi khusus perempuan sampai mitigasi bencana sederhana yang bisa dilakukan di pengungsian.
Lembaga swadaya masyarakat, komunitas, organisasi sosial, dunia usaha, kelompok masyarakat, relawan, kreator konten dan orang-orang yang tergerak untuk membantu datang dengan caranya masing-masing. Sungguh, Manggarai Timur Tidak Sendirian
Pasca bencana. media sosial memainkan peran penting.
Melalui media sosial, kondisi masyarakat terdampak dapat diketahui lebih luas. Kebutuhan warga di pengungsian pun di luar pengungsian dapat disuarakan dengan lantang tanpa sekat. Donasi digerakkan dengan informasi kondisi lapangan yang menyebar cepat. Untuk bagian ini, media sosial bukan sekadar tempat berbagi informasi tetapi menjadi salah satu kekuatan solidaritas sosial.
Masyarakat luar yang sebelumnya mungkin tidak banyak tahu kondisi Manggarai Timur, akhirnya tergerak untuk membantu karena melihat cerita langsung dari lapangan.
Untuk itu, kerja para relawan, kreator konten, komunitas dan berbagai pihak yang datang membantu patut dihargai.
Namun di tengah banyaknya informasi tentang bencana di media sosial, ada hal lain yang penting dicermati, disampaikan dan diluruskan.
Ketika sebuah konten tentang satu lokasi menjadi viral, maka lokasi dan penanganan bencana di tempat tersebut seolah-olah menjadi gambaran keseluruhan kondisi bencana.
Padahal tentu saja tidak sesederhana itu, Manggarai Timur sangat luas.
Ada 12 kecamatan yang terdampak bencana dengan masing-masing bentuk kerusakan. Masyarakat yang tersebar di 176 desa dan kelurahan membutuhkan bantuan sesuai porsi berdasarkan data kerusakan dan dampak yang berbeda. Ada ASN yang tetap bekerja dan melayani, mengumpulkan dan melaporkan kondisi terkini, meskipun rumah mereka sendiri juga mengalami kerusakan, Para tenaga kesehatan yang terus melayani di tengah situasi tanah yang masih terus bergetar karena gempa susulan, pemerintah desa dan kecamatan yang bekerja diantara puing reruntuhan dengan sumber daya yang terbatas. Juga masyarakat lokal yang membantu tetangganya dengan tulus dan apa adanya.
Kerja-kerja tersebut tidak selalu didokumentasikan atau dimasukan ke media social, apalagi berharap viral.
Lebih sering terjadi, orang yang datang ke lokasi bencana dalam waktu relatif singkat dapat membawa pulang cerita yang sangat kuat. Cerita itu kemudian menyebar luas dan viral di media sosial. Tentu saja itu tidak salah.
Yang menjadi persoalan kemudian adalah ketika satu potongan cerita dianggap mewakili keseluruhan cerita. Atau ketika satu lokasi yang terlihat sangat parah kondisinya atau penangananannya dianggap kurang memuaskan, dijadikan ukuran untuk menilai seluruh kerja penanganan bencana.
Yang lebih buruk adalah ketika kerja pemerintah dan masyarakat setempat yang sudah berlangsung sejak hari pertama, seolah tidak pernah ada hanya karena tidak terlihat dalam sebuah unggahan atau tidak sempat menjadi viral. Di titik inilah kita perlu lebih bijak membaca media sosial. Konten yang viral bisa membuka mata public, namun tidak selalu merupakan keseluruhan fakta.
Pemerintah Perlu Dikritik, Tetapi Jangan Menghapus Kerjanya
Tulisan ini bukan sebuah upaya pembenaran atau pernyataan bahwa semua kerja pemerintah sudah sempurna. Dalam kondisi bencana sebesar ini, kekurangan tentu adalah keniscayaan. Ada daerah yang belum tersentuh maksimal, masih ada kebutuhan masyarakat yang belum terpenuhi, bantuan yang terlambat dengan berbagai alasan atau pola komunikasi dan koordinasi yang perlu diperbaiki.
Kerjanya masih panjang, semua pihak masih berbenah sambil terus belajar. Banyak pekerjaan besar yang menunggu setelah berakhirnya masa tanggap darurat. Memasuki masa pemulihan, pekerjaan akan semakin kompleks. Bukan hanya penanganan kerusakan fisik; ada dampak psikososial yang harus juga dipikirkan, dampak kerusakan lingkungan dan proses pemulihan pada banyak aspek kehidupan masyarakat.
Masyarakat memiliki hak untuk mengkritik dan Pemerintah harus bisa menerima serta terbuka terhadap kritikan.
Kritik dibutuhkan agar penanganan bencana menjadi lebih baik, namun kritik akan menjadi lebih adil jika berbasis data dan melihat keseluruhan konteks. Pemerintah daerah bukan satu-satunya pihak yang bekerja dalam penanganan bencana, tetapi Pemda adalah garda terdepan sebagai pemilik mandat dan tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan.
Kita semua terdampak; masyarakat, relawan, tenaga kesehatan, ASN, TNI Polri. Bahkan mereka yang setiap hari terlihat di posko penangannan bencana, ada di lapangan dan lokasi pengungsian; mereka yang berada di garis depan penanganan bencana juga memiliki keluarga dan rumah yang mungkin sama-sama mengalami kerusakan. Tetapi pekerjaan harus tetap berjalan, tanggung jawab harus dituntaskan.
Ada wajah lain dari bencana yang jarang terlihat dan tidak diceritakan.
Seorang ASN bisa saja kehilangan sebagian harta bendanya, tetapi tetap harus datang bekerja untuk mengurus kebutuhan masyarakat di posko dan mendistribusikannya. Ada tenaga kesehatan yang juga takut terhadap gempa susulan, tetapi tetap harus melayani pasien di dalam tenda darurat. Aparat pemerintah kecamatan dan desa juga memiliki keluarga yang tinggal di pengungsian, tetapi tetap harus memastikan warganya terdata dan mendapatkan bantuan.
Mereka juga korban, tetapi mereka adalah bagian dari sistem yang harus tetap bekerja.
Ketika kamera datang, cerita bencana terlihat. Tetapi kemudian ketika kamera pergi, kenyataannya adalah bencana belum selesai. Hidup harus tetap berjalan untuk semua yang terdampak; pengungsi masih membutuhkan tempat tinggal, anak-anak masih membutuhkan sekolah, fasilitas kesehatan harus diperbaiki. Rumah-rumah dan tempat usaha harus segera dibangun kembali dan ekonomi masyarakat harus dipulihkan. Ada trauma yang masih harus dihadapi dan ditangani.
Disini, kerja pemerintah daerah bersama masyarakat dan semua pihak justru justri akan diuji lebih.
Karena penanganan bencana bukan hanya tentang berapa banyak bantuan yang datang atau siapa yang paling cepat mempublikasikan kondisi terkini atau konten mana yang paling viral.

Penanganan bencana adalah tentang bagaimana sebuah daerah dan semua unsur yang ada di dalamnya mampu kembali berdiri. Manggarai Timur masih tertatih berusaha bangkit dan berjalan kembali. Tetapi Manggarai Timur bukan hanya Pemda, Magggarai Timur adalah kita semua yang hidup disana dan yang mencintainya walau tak berada disana.
Mari tetap bersuara ketika ada kekurangan, terus awasi pemerintahnya dan sampaikan kebutuhan masyarakatnya.
Tetapi jangan juga lupa untuk tetap melihat kerja-kerja yang telah dilakukan. Jangan biarkan satu video dan kalimat provokatif menghapus ribuan jam kerja di lapangan. Jangan menghakimi dan menghapus kerja orang-orang yang sejak hari pertama tetap berada di sana hanya karena satu unggahan yang viral.
Mari juga menjaga agar jangan sampai setelah bantuan datang dan kamera pergi, masyarakat Manggarai Timur harus menghadapi bencana seorang diri.
Gempa telah mengguncang selama sekian detik, semoga ia tidak sampai juga mengguncang rasa saling percaya, kekeluargaan dan gotong royong yang selama ini telah terbangun dan menjadi kekuatan kita.
Karena pemulihan Manggarai Timur bukan hanya tugas dan pekerjaan pemerintah, relawan atau tugas masyarakat saja; ini adalah tugas semua kita yang mencintai Manggarai Timur.
Semua kita terdampak, efeknya mungkin berbeda, tetapi kita bisa bangkit dan pulih bersama.
Salam dari Borong.
JEANY WAJONG

