KEGADUHAN POLITIK ADALAH AKIBAT KESERAKAHAN PUCUK PIMPINAN

NYALANYALI.COM – Hari ini kami menyampaikan rilis singkat dengan hati yang kecewa, tapi dengan kepala yang tetap waras. Kegaduhan politik yang terjadi di negeri ini, bukan disebabkan oleh rakyat. Bukan disebabkan oleh masyarakat kecil di desa. Kegaduhan ini disebabkan oleh keserakahan para pucuk pimpinan. Mereka yang seharusnya menjadi penyejuk, justru menjadi sumber api. Mereka yang seharusnya menjadi pemersatu, justru menjadi pemecah belah. Mereka yang seharusnya mengabdi kepada rakyat, justru mengabdi kepada kekuasaan, kepada jabatan, dan kepada kepentingan kelompoknya sendiri.

Gambar: Istimewa

Akibat keserakahan itu, masyarakat kini bergejolak. Masyarakat kecewa. Masyarakat lelah.

Rakyat lelah melihat janji yang tidak ditepati. Rakyat lelah melihat hukum yang tidak adil. Rakyat lelah
melihat para pemimpin yang saling berebut, sementara rakyat yang dibawah semakin sulit mencari
makan, semakin sulit mencari kerja, semakin sulit mendapatkan keadilan.

Yang lebih menyakitkan, saat ini kita sedang menyaksikan perang dalam selimut. Perang yang tidak
terlihat, tapi terasa. Sesama anak bangsa saling memerangi. Sesama pemimpin saling menjatuhkan.
Musuh dicari bukan di luar negeri, tapi dicari di dalam negeri sendiri. Kawan dijadikan lawan. Lawan
dijadikan musuh. Saudara dijadikan ancaman.

Ini bukan lagi politik. Ini sudah menjadi perang kekuasaan.

Dan dalam perang itu, rakyat hanya dijadikan wayang. Rakyat dimainkan di balik layar kekuasaan.
Rakyat disuruh teriak, disuruh membenci, disuruh memihak, padahal yang menikmati hasilnya bukan rakyat, tapi para dalang yang ada di atas sana. Setelah pertunjukan selesai, rakyat ditinggalkan. Rakyat
kembali miskin, kembali susah, kembali kecewa.

Lihatlah negeri kita hari ini. Para elit saling tikam. Saling buka aib. Saling lapor. Saling ancam. Saling
serang di media. Negeri ini sudah laksana ring tinju. Bukan lagi ruang musyawarah. Bukan lagi rumah
kebangsaan. Tapi arena perkelahian para elit yang haus kekuasaan.

Padahal yang berdarah bukan mereka. Yang terluka bukan mereka. Yang menderita adalah rakyat.
Rakyat yang diadu domba. Rakyat yang dipecah belah. Rakyat yang menjadi korban dari pertarungan
yang bukan pertarungan mereka.

Oleh karena itu, kami menyerukan :

  1. Hentikan keserakahan. Jabatan itu amanah, bukan warisan. Kekuasaan itu titipan, bukan milik
    pribadi. Jangan korbankan negeri ini hanya demi mempertahankan kursi.
  2. Hentikan perang dalam selimut. Jangan jadikan sesama anak bangsa sebagai musuh. Musuh kita
    yang sebenarnya adalah kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan. Bukan saudara kita sendiri.
  3. Hentikan menjadikan rakyat sebagai wayang. Rakyat bukan alat politik. Rakyat bukan pion. Rakyat
    adalah tuan dari negeri ini. Jangan mainkan rakyat demi kepentingan elit.
  4. Kembalikan negeri ini dari ring tinju menjadi rumah bersama. Kita boleh berbeda pendapat, tapi
    jangan saling tikam. Kita boleh bersaing, tapi jangan saling menghancurkan.

Wahai para pucuk pimpinan, ingatlah. Rakyat bisa kecewa. Rakyat bisa marah. Tapi kalau rakyat sudah
tidak percaya lagi, tidak ada lagi kekuasaan yang bisa bertahan. Karena kekuasaan yang lahir dari
keserakahan, akan runtuh oleh kekecewaan rakyatnya sendiri.

Kami masih cinta Indonesia. Kami masih ingin Indonesia damai. Tapi kami meminta, kembalikan
kewarasan bernegara. Kembalikan politik yang bermartabat. Kembalikan kepemimpinan yang
mengayomi, bukan yang mengadu domba.

Cukup sudah kegaduhan ini. Cukup sudah rakyat dijadikan korban.

Mari kita hentikan perang di dalam selimut ini, sebelum negeri ini benar-benar robek dari dalam.
Teruntuk seluruh rakyat Indonesia mari bersama dengan bekal merah putih, dengan bekal kesadaran
menjelang 100 tahun menjadi Indonesia mari kita putuskan bersama untuk bersatu bergerak
mewujudkan Indonesia Selaras Setara dan Sejahtera.

Dengan semangat itulah, GERAK NUSANTARA
sebagai Gerakan Rakyat Menuju Putusan Tatanan Sejahtera. Kita harus melahirkan perubahan!
Dan untuk sekali lagi, maka tiada seorang pun yang berhak menentukan tatanan kesejahteraan
secara sendiri-sendiri.
Tatanan itu harus lahir kembali dari rakyat Indonesia!
Kedaulatan tidak diwariskan. Kedaulatan itu dihidupkan.
Selamatlah Rakyat Sekalian!

Gambar: Istimewa

Atas Nama Rakyat yang Kecewa Tapi Masih Cinta Indonesia
Pati, 5 November 2026
Gunretno Sedulur Sikep
Gerak Nusantara

Bagikan :

Advertisement