Swara SeadaNya Membuka Ajang Teater Internasional “Festival Sagara ASEAN 2026”

NYALANYALI.COM – Lampu di auditorium Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia belum sepenuhnya benderang ketika udara malam menyusup di antara penonton, dingin, namun masih terasa jejak-jejak kehangatan. Di atas panggung yang lapang, sunyi bukan lagi ketiadaan suara, melainkan sebuah tekanan, ruang kosong yang menuntut diisi.

Pukul delapan tepat, Senin malam, 12 Oktober 2026, keheningan itu pecah bukan oleh gegap gempita orkestra kolosal, melainkan oleh desah napas, gesekan dawai yang tertahan, dan getar vokal yang merayap pelan dari sudut panggung.

Kelompok kesenian lintas disiplin Swara SeadaNya hadir di sana, membuka ajang teater internasional “Festival Sagara ASEAN 2026”. Para personil yang tampil: Gunawan Wicaksono (Vokal dan Mantra), Ayie Suminar (Puisi), Asep Rachman Muchlas (Bass), Theressa Rida (Celempung), Abrar Husin (Kecapi), Bay Guitaro (Biola), dan Indonesiana Ayuningtyas (Tari), mereka tidak sedang menghibur.

Mereka sedang merapalkan ingatan. Repertoar bertajuk “Tubuh adalah Nyanyian Semesta”, sebuah naskah hasil interpretasi dari kitab Sutasoma karya Mpu Tantular yang ditulis oleh Ayie Suminar dengan arahan tata musik dari Asep Rachman Muchlas, mengubah panggung malam itu menjadi altar kontemplasi. Di bawah sapuan cahaya minimalis, sajak-sajak beresonansi dengan kecemasan manusia kontemporer.

Suara-suara itu hadir seolah mengiris udara Kota Depok yang basah, liukan tubuh penari Indonesiana Ayuningtyas mengingatkan bahwa di dalam tubuh manusia, tersimpan cinta yang merupakan api kehidupan.

Sagara dan Keteguhan Alfian Siagian

Festival Sagara ASEAN 2026 bukanlah sekadar perhelatan estetik musiman. Ia adalah manifestasi dari sebuah keyakinan kolektif yang dirawat secara sabar. Di balik denyut festival ini, berdiri Alfian Siagian, seorang penggerak kebudayaan yang gelisah melihat renggangnya simpul solidaritas bangsa-bangsa di kawasan Asia Tenggara.

Melalui Komunitas Sagara yang ia gagas, Alfian konsisten membangun ruang temu bagi para seniman peran, teaterwan, dan pemikir lintas batas. Sejumlah kelompok teater dari sejumlah bangsa di Asia Tenggara seperti Indonesia, Thailand, Timor Leste, Brunei Darussalam, dan Malaysia hadir di sana.

Bagi Alfian, Sagara, yang menyimbolkan samudera luas, adalah ikhtiar merajut kembali peradaban maritim dan kultural yang kerap terpecah oleh batas-batas administratif negara. Menghadirkan panggung pembuka di FIB UI, jantung intelektual Indonesia, adalah sebuah pernyataan sikap: bahwa diplomasi paling jujur hari ini bukan lagi lewat meja birokrasi, melainkan lewat getaran rasa di atas panggung teater.

Di bawah kemudi visionernya, Festival Sagara ASEAN 2026 menjelma menjadi mercusuar tempat denyut seni Asia Tenggara saling menguji, merenung, dan menyatu.

Foto dok. Swara SeadaNya

Anomali Bernama Swara SeadaNya: Rekam Jejak 2025–2026

Lahir dari rahim keresahan akademik dan kultural di Makara Art Center UI pada 25 April 2025, Swara SeadaNya sejak awal menolak tunduk pada pakem industri musik arus utama. Mereka memilih jalan sunyi: meneliti naskah-naskah kuno Nusantara, membongkar arsip sastra klasik, lalu mengalihwahanakannya ke dalam lanskap pertunjukan kontemporer.

Sepanjang rentang 2025 hingga 2026, rekam jejak kelompok ini adalah sebuah perjalanan ziarah kultural. Mereka tidak berhenti pada wilayah wacana. Pada pertengahan 2026, rombongan Swara SeadaNya turun langsung melakukan ekspedisi riset naskah Nusantara ke jantung kebudayaan di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Dari tangan dingin mereka pula lahir proyek-proyek yang bekerjasama dengan para akademisi Universitas Indonesia seperti Sutasoma Project, sebuah pembacaan ulang atas kitab kakawin Mpu Tantular yang diterjemahkan kedalam dialektika bunyi modern, teater, dan gerak tari.

Mereka tampil di mana saja tanpa kehilangan marwah; dari gelaran esoteris ruang akademik hingga panggung-panggung publik yang bising, membuktikan bahwa tradisi bukanlah fosil, melainkan energi yang terus bernapas.

Kekuatan Swara SeadaNya terletak pada kolektivitasnya yang cair namun bertenaga. Kelompok ini digerakkan oleh para seniman dan pemikir lintas bidang yang menolak lebur dalam keseragaman. Di atas panggung Festival Sagara ASEAN 2026 malam itu, barisan personilnya menghidupkan tiap jengkal repertoar.

Di akhir pementasan, Swara SeadaNya telah meninggalkan satu tanda tanya besar di benak penonton: masihkah kita mengenali suara sendiri di tengah bisingnya dunia? Jawabannya tertinggal di udara, menggantung bersama sisa-sisa gaung “Tubuh adalah Nyanyian Semesta”.

Bagikan :

Advertisement