Nongkrong di kedai pikiranku melayang
Menyelami, nikmatnya secangkir kopi
Pilihan beraneka rupa dan rasa, sesuai selera
Kedai kopi menjamur di mana-mana
Ku reguk kopiku, ku lihat kocekku, pas bathinku
….
Ku pandang langit dari jendela kedai itu
Ku lihat cangkir kopiku, permukaannya bergelombang tertiup nafasku
Ada cahaya menari-nari dalam cangkirku, kilau kopi, laksana pulau-pulau
Aku melihat wajah negeriku, tapi
Apakah aku mengenalnya?
…
Selain, aroma dan rasa yang telah membiusku
Cangkir kopi ku masih mengepulkan asap
Berkelebat bayang bayang masa lalu
Lalu, pikiranku menerobos bilik-bilik sejarah
Dedak kopi menetak jejak yang tertinggal dalam cangkir
Literatur tua peninggalan VOC menyebutkan tahun 1696 saat Belanda membawa kopi ke pulau Jawa
Malabar, sebuah kota di India, asal muasal kopi yang ku nikmati katanya
Entah lah…
Monopoli VOC, kopi, rodi, menjajah negeri-negeri menjadi lahan pertanian kopi
Ku teguk kopiku…
Ijen, Danau Toba, dan Danau Laut Tawar Gayo dataran tinggi yang melahirkan kopi-kopi terbaik
Lalu,
Karat daun mewabah menyapu ladang-ladang kopi tahun 1876, aku tercenung…
Robusta yang bernama asli Canephor var robusta diperkenalkan di Jawa Timur pada tahun 1900
Robusta, menjadi primadona pengganti di dataran yang lebih rendah
Ku teguk lagi kopiku…
Ku lihat kibar merdeka sang merah putih
Kebun-kebun kopi di Jawa di ambil alih dan dinasionalisasi
Walau tak lama setelah ikrar merdeka
Kopi sempat timbul tenggelam dalam sengkarut ekonomi politik
…
Hari ini, ku teguk habis kopiku
Aromanya menyeruak memasuki mal-mal
Gang-gang sempit, ruang kerja politisi, dan kamar penyair
Mau kopi?
Sekali klik, kopi tersaji
Semoga Petani kopi hepi
Aku tersedak, kopi
Dedaknya tertinggal dikerongkonganku
Depok, medio April – akhir Juli 2019-2020
NANANG FARID SYAM

