NYALANYALI.COM, Kisah – Kebon Gede, Bogor, 1923. Ilalang tumbuh lebat di sebuah ladang lapang. Berjejer rapat menutup, menyembunyikan yang tersembunyi. Tak nampak ada yang perlu ditampakkan. Hamparan ilalang merata, tak hati -hati bisa melukai.
Hingga Adoeng. Wakil Jaksa Bogor menemukan di ladangnya itu dua makam bersisian dengan marmer hitam. Di sana terbaring Raden Saleh Sjarif Bustaman, dan istrinya Raden Ayu Danurejo.
Presiden Soekarno bersegera meminta F. Silaban, arsitektur Masjid Istiqlal untuk melakukan pemugaran makam pelukis naturalis yang sebagian besar hidupnya berada di Eropa, bahkan menjadi pelukis istana.
Lukisannya pun jadi perbincangan tak berkesudahan. Bahkan sampai kini mendulang harga yang fantastik.
Pelukis dunia ini lah yang memiliki kediaman di Cikini (Sekarang menjadi RS Cikini). Eyang para pelukis Indonesia ini, sebagian hidupnya bagai misteri. Hingga ditemukan makamnya di sebuah ladang ilalang, di Kebon Gede, Bogor, 93 tahun lalu.
Di Koran Java Bode, 28 April 1880, diberitakan:
Pada hari Minggoe tanggal 25 April djam 6 pagi maitnja Raden Saleh diiringi oleh banyak toean-toean ambtenaar, kandjeng toean Assistant, toean Boetmy dan lain-lain toean tanah, hadji-hadji, satoe koempoelan baris bangsa Islam, baik jang ada pangkat jang tiada berpangkat dan orang Djawa, sampe anak-anak Djawa dari Landbouwschool semoea anter itoe mait ke koeboer.
Penghoeloe-penghoeloe, kiai-kiai dan orang-orang alim soedah djoega ikoet anter. Itoe orang-orang Selam dan Djawa dan apa lagi itoe jang alim-alim soedah njanji sepandjang djalan dengan soeara jang sedih; “AwIIoh hoema salim, Awlloh sajidina Moehammad Rasoeloellah.”
Pelukis besar itu tutup usia dalam sunyi. Jauh dari gebyar Batavia. Jauh dari sanjung dan puja puji.
***
Dia yang terbaring dan terlupakan. Di Jalan Pahlawan Gang Raden Saleh, Bogor, berada di antara kepungan rumah-rumah yang padat. Di sisi jalan gang sempit. Orang besar semasa hidupnya, bahkan sampai sekarang pun membicarakannya penuh kekaguman.
Tapi ia terlupakan, di peristirahatan terakhir yang didiaminya136 tahun lalu, yang sepi, kalah ramai dengan warung ayam bakar di seberang gang.
S. DIAN ANDRYANTO
Penulis #sayabelajarhidup

