Mereka Mendengar, Tak Cuma Bicara

NYALANYALI.COM – Panitia Program Kerja BEM KEMA Universitas Padjajaran ( Unpad) mengundang untuk mengisi literasi propaganda media di kelas Garda Padjadjaran School, Senin, 24 November 2025 di Fisip Gedung C, Kampus Unpad Jatinangor.

Ini keempat kalinya, empat tahun berturut-turut anak-anak muda ini mengundang saya, bukan mengajar, hanya menjadi teman bicara.

Mereka mau mendengar, tak cuma keras bicara. Mereka mau menerima masukan, bukan pandai orasi saja. Ini hal paling penting.

Sebelumnya, sudah ku jelaskan ke mereka, saya memasuki masa pensiun, saya tak bisa lagi menggunakan embel-embel tempat saya bekerja. Saya sarankan mencari pemateri lainnya. Tapi mereka bersikeras meminta saya meski tanpa embel-embel perusahaan itu.

“Kami inginkan akang yang jadi pemateri, tak apa akang sudah pensiun. Senior kami yang dulu pernah mengundang, merekomendasikan hanya akang,” Kata Devan, ketua panitia.

Apa boleh buat jika mereka sudah bulat. Tak ada ruginya menemui mereka, silaturahmi jadi tujuan, sedikit pengalaman barangkali masih ada yang mau mendengarkan. Meski setelah bertemu, tak ada lagi sebutan “akang” melihat kumis beruban mereka otomatis memanggil “bapak”.

Anak-anak muda usia kitaran 19-20 tahunan itu bersemangat, sejak pukul 16.00 tak berhenti mereka rebutan bertanya, jika azan magrib tak berkumandang maka tak akan berhenti acara ini.

Jakarta-Jatinangor selalu punya kenangan saat berada bersama mereka. Nyala yang berkobar, idealisme tak terbeli, peka terhadap sekitar, mereka pun mengepalkan tangan kiri: Lawan!

Gambar: Mahasiswa UNPAD

Selalu saya teringat saat jadi aktivis, turut dalam berbagai aksi, saat jadi wartawan melihat bagaimana keteguhan mahasiswa setiap generasi mengawal keadilan dan demokrasi. Pun pada 1998, saya meliput aktivis sampai persembunyiannya, melihat Gedung MPR/DPR disesaki mahasiswa dan aktivis pro reformasi.

Meski harus menjadi saksi pula, tokoh-tokoh gerakan saat itu, ketika telah menjadi bagian kekuasaan berubah total. Sikap kritis menjadi penjilat rezim. Suara lantang dulu menjadi berkelok-kelok tak menentu.

Senin lalu, saya menemani anak-anak muda ini. Tentu saja saya tak serta merta menjadi muda, tapi setidaknya saya menularkan nyali, sepercik apapun itu kelihatannya.

Mereka mengantar sampai halama.Terus bersuara jika ingin didengar, terus asah kepedulian sosial, jangan hanya pandai bicara tapi tak punya rasa buat orang-orang yang jadi sumbu perjuangan kalian.

“Sampai tahun depan akang.. Eh bapak…” kata mereka. Saya mengepalkan tangan kiri di dada, kemudian mereka ikuti. Kami pun berpisah. Membawa kenangan.

S.DIAN ANDRYANTO

Bagikan :

Advertisement