Selusin dari Madani Internasional Film Festival

NYALANYALI.COM – “Cahaya selalu terikat dengan bahasa sinema. Jauh sebelum era digital, film dikenal sebagai seni melukis dengan cahaya,” kata Garin Nugroho pada malam pembukaan Madani Internasional Film Festival (MIFF) 2025, di Epicentrum XXI, 8 Oktober 2025 lalu. Sutradara dan Board MIFF tersebut menyinggung misykat (ceruk cahaya) yang menjadi tema MIFF tahun ini. Bagai obor atau lentera, wadah yang mengumpulkan dan mengarahkan cahaya menuju satu titik.

“Di dunia yang sering terasa gelap seperti sekarang, kita membutuhkan ceruk cahaya itu,” tambah Garin. Ia mengutip kitab Al-Ghazali, Relung Cahaya (Misykat al-Anwar), di tengah tragedi genosida di Palestina. Dia pun berharap, MIFF bisa menjadi semacam misykat di tengah kegelapan kini. Kerdip lilin yang jadi terang bila terus dibagikan. Awak teringat baris sajak Amir Hamzah, “Pada-Mu Jua”: “Kaulah kandil kemerlap/ pelita jendela di malam gelap/ Melambai pulang perlahan/ sabar, setia selalu”.

Film Tiga Generasi Palestina

Sebuah film yang mengisahkan tiga generasi sebuah keluarga Palestina, All That’s Left of You, membuka MIFF 2025. Dari kakek yang punya ladang jeruk di Jaffa, kemudian tanahnya dikuasai Israel pada 1948. Lalu pindah ke Nablus di mana sosok ayah menjadi guru, hingga cucu yang tewas ditembak Israel saat gerakan Intifadah pada 1988.

Mungkin karena sutradara serta penulis skenarionya seorang perempuan, Cherien Dabis, film ini bukan sekadar mengekspresikan kemarahan dan kesedihan Palestina. Tapi juga puitis serta menyajikan renungan filosofis. Noor, pemuda yang koma akibat peluru Israel dalam sebuah rumah sakit di Haifa, akhirnya didonorkan organnya kepada seorang bocah Israel.

Ayah memandikan jenazah putranya, Noor, dengan jahitan di dada bekas donor jantung merupakan salah satu adegan yang menggetarkan hati awak. Selain scene keduanya yang distop tentara Israel saat pulang mengajar serta belajar di sekolah, lantas dihinakan dengan ancaman senapan yang sangat traumatis bagi mereka. Tokoh ayah, Salim, sampai mematikan televisi yang membuat Noor dan kakeknya, Sharif, berhenti nyanyi bersama tentang Palestina.

“Palestina kini tinggal kenangan,” ujar Salim frustrasi kepada putra dan kakeknya. Pada akhir film, ia mengajak istrinya, Munira, menyusuri rumahnya di Jaffa yang tinggal puing serta kebun jeruknya yang telah raib. Mereka berjalan kaki menuju pantai pada hari senja. Munira pun minta diajarkan sajak yang kerap digumamkan Salim dari Sharif di ujung film.

Sewaktu bersua dengan Garin di luar bioskop, awak bilang sambil menyitir sebuah judul filmnya, “Akhirnya puisi juga yang tak terkuburkan.” Mungkin ini film terbaik Palestina yang pernah awak tonton. Saat mature, wajah pemeran Salim dan Munira mengingatkan awak kepada Cat Stevens serta Joan Baez. “All my trials, Lord, soon be over,” sayup lengking Joan Baez bergema di hati awak.

Menonton Film “Tauhid” – Asrul Sani

Pada hari kedua MIFF, 9 Oktober 2025, awak minta izin kepada bos di kantor, untuk menonton film Asrul Sani, Tauhid, yang diproduksi pada 1964. Karena nonton tanding bola Indonesia lawan Arab Saudi di televisi dini harinya, sekitar setengah jam pertama awak tertidur di Studio Asrul Sani, Taman Ismail Marzuki. Buruk sekali arsip filmnya, banyak audio dan gambar yang rusak atau raib.

Film bercerita tentang Halim yang diperankan Aedy Moward, seorang dokter di kapal pengangkut jamaah haji. Ia sudah sering bertugas ke Tanah Suci, tetapi hatinya tak pernah bergetar untuk menunaikan ibadah haji. Berkat dorongan Mayor Udara Mursyid, guru agama muda, serta seorang pengarang yang dikenalnya di kapal, Halim akhirnya mau melaksanakan ibadah haji.

Seperti sinetron Mahkamah yang dulu pernah ditayangkan TVRI, Asrul kembali mendedahkan kegelisahan eksistensial manusia. Mirip dengan film Sjuman Djaya, Atheis, yang diproduksi sepuluh tahun kemudian, mengadaptasi novel Achdiat Karta Mihardja. Dialog terasa berat dan wagu. Yang asyik gambarnya merekam haji masih naik kapal, di atap bus, atau berunta. Masjidil Harom, misalnya, belum semewah sekarang yang berjam gadang.

Walau kualitas arsip Tauhid amat buruk, bagai awak nonton Pagar Kawat Berduri di Kineforum dulu, film ini merupakan dokumentasi berharga tentang haji, Makkah, serta Madinah yang tak mengasingkan hati awak, seperti ketika umroh sepuluh tahun silam. Namun, menatap Ka’bah dan Masjid Nabawi pertama kali tetap saja menitikkan air mata awak.

Dari Afrika ke Malaysia

Setengah jam terlambat karena baru selesai kerja, awak menonton film “Borders” pada hari ketiga MIFF, 10 Oktober 2025. Awak sempat tertidur, karena kecapekan seharian nulis, ngedit, serta rapat.

Ini kisah empat perempuan yang dipertemukan di bus dalam perjalanan menyusuri negara-negara Afrika Barat, dari Benin ke Nigeria. Film tersebut diproduksi bersama Burkina Faso dan Prancis.

Cerita berkelindan dari perhiasan emas curian dalam hamburger, aparat perbatasan nan korup, sampai tentara perbatasan yang memperkosa penumpang perempuan. Hiburan cuma jerapah-jerapah yang berlari di tengah hutan Afrika.

Film yang kelam membuat perut awak lapar, begitu keluar bioskop Metropole XXI. Awak seruput es teler Megaria, lalu kusantap nasi kotak kebuli jatah rapat yang belum sempat kumakan siang tadi.

Setelah perut kenyang, awak melanjutkan nonton “Memori”. Sebuah film Malaysia yang mengharukan tentang relasi anak tunggal dengan ayahnya yang alzheimer.

“Kamu siapa?” tanya Hassan berkali kepada Imran. Tetapi, mendiang tak pernah lupa kepada Rani, mantunya yang baik hati. Sedangkan Rani merasa tiada cinta lagi dari suaminya yang sibuk nian.

Trauma masa kanak, baik yang dialami Dokter Hassan maupun Imran, putra tunggalnya, akhirnya terungkap, saat sang ayah menderita dimensia akut. Kisah yang telah terpendam sekian lama.

Waktu sahabatnya yang nyentrik memaksa Imran melawan traumanya dengan berenang di laut, Hassan justru meregang nyawa. Istrinya, Rani, sangat kehilangan mertuanya.

Sutradara Memori, Abid Hussasin, hadir dalam diskusi usai film. Beberapa penonton mengaku menangis, termasuk awak.

Film yang dekat dengan kita, tapi langka di Indonesia. Film kita lebih sibuk meninabobokkan penonton dengan film horor tolol dan cinta. Kita kalah lagi dengan negeri jiran.

Rindu Kami Padamu

Usai haul setahun istri sepupu di Lebak Bulus, awak naik mikrolet dan MRT ke Taman Ismail Marzuki. Film Garin Nugroho yang sudah lama kepingin awak tonton, Rindu Kami PadaMu, diputar pada hari keempat MIFF, 11 Oktober 2025, di Studio Sjuman Djaya, Taman Ismail Marzuki. Film produksi 2004 ini awak suka, karena setting-nya pasar.

Dari bocah-bocah nakal yang kurang kasih sayang, guru mengaji yang tak begitu dihargai lagi, suami yang ditinggal istri begitu saja, istri yang ditinggal dua suami, pemuda Tionghoa yang tidak kaya, gadis yang hendak bunuh diri, hingga perempuan muda simpanan. Tumben film Garin riuh, tak bersonya ruri. Sayang ceritanya tak terjalin utuh.

Tokoh suami yang diperankan Jaja Miharja, misalnya, tidak jelas kenapa istrinya pergi, lalu muncul tiba-tiba pada akhir film. Abang Rindu juga mendadak muncul di ujung film, enggak jelas kenapa membawa kubah masjid yang anehnya justru menutup film orang-orang pasar ini. Skenario Garin tetap sulit mengalir, walau ditulis bersama Armantono.

Untungnya, aktor dan aktris film ini bagus mainnya, dari Didi Petet, Neno Warisman, Nova Eliza, sampai Fauzi Baadila. Yang menarik juga Garin tak berkhutbah, kendati ini film religiusnya. Tokoh guru ngaji malah diteriaki gadis yang hendak bunuh diri dan dilempar bocah dengan telur. Tokoh Rindu tunarungu pula yang nyanyi “Rindu Rosul” – Bimbo dengan susah payah.

Kalau berbagai cerita berjejal dalam Rindu Aku PadaMu, film Thailand, Panyi I Sea You, yang diputar di Studio Asrul Sani pada malam hari terlalu ringan. Sutradaranya, Arinchai Rattana, hadir pada world premiere film tersebut. Kisah dokter muda hedonis di Bangkok yang ditugaskan ke kampung muslim Laut Andaman, berubah jadi film cinta norak buatku.

Saat beberapa penonton cewek berteriak mendengar rayuan gombal dokter muda itu kepada gadis berjilbab setempat, awak tak tahan lagi. Keluar bioskop seperempat jam jelang konser Panji Sakti dari Bandung di arena terbuka depan Teater Jakarta, TIM. Dengan musisi cello, biola, dan flute, ia menembangkan lagu-lagu sufinya. Cuma “Alif dan Ba” yang relatif baru.

Hari Terakhir MIFF Nonton Lima Film

Akhirnya awak bisa menikmati Opera Jakarta (OJ), film Sjuman Djaya satu-satunya yang mungkin belum pernah kutonton. Kendati tiga jam durasinya, awak tak merasa tersiksa. Diadaptasi dari cerita bersambung Kompas yang ditulis Titi Nginung dan diproduksi Gramedia Film, OJ bertebar aktor serta artis. Deddy Mizwar yang berperan sebagai Paman Jenderal paling bersinar.

Ini kisah petinju yang tak jelas bapaknya, Yoko. Ia menjadi idola anak-anak muda yang dicintai gadis kaya, Rum. Pada hari pernikahannya dengan lelaki lain, Rum tiba-tiba raib. Ia ke pengadilan untuk mendengar vonis hakim yang membebaskan Yoko dari rekayasa pemerkosaan. Saat perkawinan di gereja, adik Rum dan kawan-kawannya meneror dengan penembakan. Pernikahan pun batal.

Yoko membalas dendam kematian adik Rum yang mengidolakannya, dengan menampik keinginan bos tinjunya agar kalah melawan petinju Korea. Ia pun dipecat dari sasana tinjunya. Sementara Rum kawin dengan pria lain. Film ini diakhiri ziarah Yoko yang berambut mohawk ala punk di makam adik Rum. 40 tahun setelah rilis, baru awak tonton film dahsyat ini.

Keluar dari Studio Sjuman Djaya, TIM, awak masuk ke Studio Asrul Sani di sebelahnya. Film Bitter Coffee dari Turki mendedahkan cerita pertunangan. Sebuah cara bertutur lain: setting-nya cuma di rumah calon pengantin perempuan, dialog terus yang buat awak amat membosankan.

Perut sudah lapar karena nonton sejak pagi. Awak baru makan pukul 15. Akibatnya film dokumenter Everything is Written yang merekam penyelamatan naskah kuno di Timbuktu, terlambat awak tonton di Studio Wahyu Sihombing, TIM. Prof. Oman Fathurahman, filolog Universitas Islam Negeri Jakarta, membahasnya dengan komika perempuan Sakdiyah Ma’ruf.

Belum usai dongeng Sakdiyah mengenai novel George Orwell, 1984, setelah Prof. Oman bicara, awak sudah kembali lagi ke Studio Sjuman Djaya. Film dokumenter Yuda Kurniawan, Roda-roda Nada, tentang grup pengamen dangdut gerobak di Jagakarsa diputar. Awak suka dokumenternya, Nyanyian Akar Rumput, peraih Citra 2018.

Seperti kisah musisi Fajar Merah, putra penyair-aktivis Wiji Thukul yang diculik pada 1998 dan belum kembali hingga kini, Yuda mengikuti Obay dan kawan-kawan ngamen keliling dengan gerobak. Mereka juga rekaman karyanya sendiri dalam sebuah studio kecil di gang berbiaya Rp 2 juta. Usai film, awak ikut diskusi dengan Yuda. Sutradara, cameraman, editor, serta produser dokumenter yang awak hormati karena kedalaman filmnya.

Banel & Adama menutup MIFF 2025 di Metropole XXI semalam. Film Senegal ini bertutur tentang kisah cinta yang berujung duka. Banel tak punya anak. Adama pun tidak bisa memimpin sukunya. Sapi-sapi mati bergelimpangan sebagai kutukan. Badai datang menyapu dusun tandus itu. Banel berjalan sendiri di tengah badai di ujung film tersebut. Lagi-lagi cinta kalah oleh society.

RAMDAN MALIK

Bagikan :

Advertisement