Paku Besar di Perjalanan

NYALANYALI.COM, Kisah – Kemarin pulang kerja di hari kedua puasa, udara sore Cilegon cukup cerah. Tiba-tiba di perjalanan yang baru 10 menit dari tempat kerja, ada sepeda motor sengaja menjejeri sambil menunjuk-nunjuk ke arah belakang mobil. Baiklah, harus minggir dulu nih.
 

Setelah menemukan tempat yang agak lapang, saya minggir dan turun dari mobil. Memeriksa bagian belakang mobil, semua normal, tidak ada yang aneh. Saya melanjutkan perjalanan. Belum sampai 5 menit, ada lagi sepeda motor yang menjejeri dan menunjuk bagian belakang, bahkan diikuti beberapa sepeda motor yang lain. Wah, serius nih. Ditambah lagi mulai tercium aroma sangit dan terdengar suara putaran seperti kipas di bagian belakang.

Saya minggir lagi setelah menemukan tempat yang agak lapang untuk berhenti di jalan yang mulai ramai di jam pulang kerja. Kembali memeriksa mobil bagian belakang dan ternyata ban bagian belakang kanan sudah tidak ada anginnya sama sekali. Saya sentuh, panas banget. Baiklah harus cari tambal ban.

Alhamdulillah sekitar 150an meter berjalan ada tukang tambal ban. Saya hanya perlu mengisi angin supaya bisa segera melanjutkan perjalanan pulang mengejar buka puasa. Rencananya besok pagi saja ditambal. 


Pagi tadi ban tersebut sudah habis lagi anginnya. Baiklah, harus tetap berangkat kerja, semoga tambal ban dekat rumah sudah buka pagi ini. Alhamdulillah sudah buka, saya hanya mengisi angin karena lokasinya sangat mengganggu lalu lintas jika lama berhenti di situ.

Di jalur Lingkar Selatan yang jalannya cukup lebar saya berhenti di tukang tambal ban. “Ada pakunya, Bu,” kata Pak Tukang Tambal Ban sambil menunjukkan setitik logam yang permukaannya terlihat di ban sambil mencoba untuk mencabutnya dengan kukunya.

“Eeeee…..gede amat pakunya,” katanya, sambil mengambil tang untuk mencabut sesuatu yang dikira paku dari ban saya. “Loh, gede banget, bukan paku ini,” gumamnya sambil terus berusaha mencabut dengan tenaga ekstra yang mungkin tidak pernah dikeluarkan saat harus mencabut paku dari ban seperti biasanya.

Saya terus memperhatikan aktivitasnya sambil penasaran benda apa yang dicabutnya. Dan. tararaa…..!!! Ternyata semacam obeng, tapi tumpul di kedua sisinya sepanjang 8 cm. “Aneh…..benda seperti ini kok bisa nancap ke ban,” ia bergumam sambil menunjukkan pada saya. Atas persetujuan beliau benda itu saya bawa.

“Bu…..ini harus didobel nambalnya, robek bannya, nggak cukup ditambal satu” kata beliau. “Nggak papa, Pak, lakukan aja, yang penting bisa dipakai jalan,” kata saya sambil memperhatikan logam tadi. Ini harus dengan tenaga yang sungguh-sungguh untuk bisa ditancapkan ke ban. 


“Sudah selesai Bu, Ibu mau kerja ya,” katanya sambil tersenyum. “Iya Pak, kelihatan dari baju saya ya, makasih ya Pak, saya berangkat dulu,” jawab saya, lega rasanya bisa melanjutkan perjalanan lagi. 


Perjalanan harus tetap dilanjutkan, apapun rintangannya, pasti ada jalan keluarnya. Saya menghela napas panjang, dan tersenyum sendiri sambil bersenandung dalam hati…..

Yeah, this is for the ones who stood their ground

xxx xxxxx xxx xxxx, who never backed down

Tomorrow’s getting harder, make no mistake

Luck ain’t even lucky, got to make your own breaks

Yaaa…..it’s my life, this is not the first, maybe not even the last. Anyway…..thanking you Allah, for always accompanying my trip…..i’m so grateful for the way You made me strong…..

RETNO P. KUSUMAWARDHANI

Bagikan :

Advertisement