NYALANYALI.COM, Kisah – Kita bukan orang Arab. Kita hidup dalam budaya ibu, bahasa ibu, dan Tanah Air yang beribu suku, berjuta kebiasaan. Saya menganut Islam, mencoba mengikuti ajarannya, sebaik saya bisa dan tak setuju budaya Arab bercampur baur dengan ajaran agama. Tak harus bersorban untuk menunjukkan saya muslim, kan? Tak harus bicara dengan banyak kosa kata Arab untuk menunjukkan keislaman, bapake dan simbok tak lebih rendah dari abi dan umi.
Saya mengagumi kecerdasan RM Said, yang kemudian banyak orang mengenalnya sebagai Sunan Kalijaga. Ia mengajarkan Islam berpadu dalam budaya tempatnya berada, sehingga tak muncul gegar budaya. Tak mencoba mempertentangkan, tapi terus meluruskan.
Dan, muncullah rujukan dalam budaya Jawa menjelang puasa. Nyadran atau nyekar yang sama makna dengan ziarah makam, mendoakan kerabat dan leluhur yang telah berpulang. Sembari mengingatkan diri, bahwa keniscayaan terhadap kematian dan segala kesibukan duniawi bukan tujuan akhir.
Pun, ruwahan atau punggahan. Makanan ketan, kolak, apem mesti tersaji menjelang Ramadan. Merujuk bahasa Arab, kolak berasal dari kata kholaka yang artinya Sang Khalik atau Sang Mahapencipta. Apem berasal dari kata afuan yang artinya ampunan. Sedangkan ketan berasal dari kata khoto’an yang memiliki arti suci, putih, dan bersih. Sebuah kecerdasan akulturasi agama dalam budaya yang apik. Harmoni.
Keluarga berkumpul menikmati ketan, kolak, apem dan mengingatkan diri pada kekuasaan Maha Pencipta, memohon ampunan untuk segala khilaf dan dosa. Mengharapkan kembali fitrah, bersih dan suci setelah menjalankan puasa. Ketan, kolak, apem pun berbagi dengan tetangga tanda tak memutus silaturahmi. Adakah yang salah?
Ketan kolak apem, barangkali sudah jarang dibuat menjelang Ramadan dengan banyak alasan, asumsi, dan keyakinan. Tapi tidak berlaku di keluarga ini. Dia akan lestari setidaknya di rumah kami menjelang Ramadan.
Kebesaran Islam di Nusantara tidak akan sebesar ini, jika Sunan Kalijaga dan lainnya tidak paham makna antara agama dan budaya.
Ketan kolak apem, sebuah tradisi bermuatan agama yang legit dinikmati. Akan terasa aneh jika dicampur kari kambing.
15 Juni 2015 S. DIAN ANDRYANTO
Penulis #sayabelajarhidup

