Menemukan Luasnya Indonesia

NYALANYALI.COM, Kisah – Sebagai daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), Semau Selatan memang masih jauh dari kata mapan. Jalan kapur berbatu menjadi jalur transportasi yang harus diarungi dengan menantang debu saat musim kemarau, sedang musim hujan harus siap dengan kondisi super becek. Di sepanjang jalan, pepohonan kering kerontang menjadi pemandangan yang umum ditemui. 

Air menjadi salah satu sumber daya vital yang sulit ditemui di daerah ini. Mengandalkan embung penampung air hujan di musim kemarau dan penduduk hanya mengandalkan keberadaan embung tersebut. Setiap hari penduduk berbondong-bondong mengambil  air ke embung dengan jarak ratusan meter dengan berjalan kaki, bukan hanya orang dewasa bahkan anak kecil pun sudah terbiasa memikul air dengan jarak ratusan meter. Masih beruntung jika hujan tiba, penduduk bisa menampung air hujan untuk memenuhi bak mandinya, meskipun sebenarnya air embung pun jauh dari kata layak konsumsi.

Tak jauh beda dengan sulitnya suplai air, listrik juga menjadi kendala tersendiri di daerah ini.
Keberadaan listrik mengandalkan PLTD yang menyala 12 jam sehari yakni dari pukul 18.00 sampai pukul 06.00 WITA, itupun seringkali mati beberapa hari dan menjadikan daerah saya tinggal benar-benar menjadi tempat mistis seperti julukannya. Masih beruntung sinyal HP tersedia cukup lancar meskipun hanya untuk satu vendor saja. Setidaknya cukup memuaskan untuk berkomunikasi dengan kolega dan keluarga.

Sebenarnya Pulau Semau memiliki banyak potensi, namun sayang potensi tersebut belum dimaksimalkan oleh penduduk maupun pemerintah setempat. Kekayaan budaya menjadi potensi yang patut dibanggakan karena pulau ini terdiri dari beragam suku. Potensi lain meliputi pertanian, peternakan, dan kelautan. Pertanian di sini adalah pertanian holtikultura  yang menjadi ciri khas daerah ini. Buah semangka atau penduduk lokal menyebutnya sebagai buah poteka menjadi hasil pertanian yang menjadi ciri khas pulau ini. 

Cukup sulit bagi saya untuk mendapatkan sayur maupun ikan di daerah tempat tinggal saya. Kadang beruntung saya bisa membeli ikan dari nelayan yang lewat depan rumah, namun jarang sekali mereka datang. Sayur juga menjadi barang langka sehingga menu harian saya hanya berkutat pada nasi, telur, dan mi instan. Maka wajarlah jika tingkat kecukupan gizi penduduk pulau ini sangat rendah.

Selanjutnya saya memulai kewajiban saya sebagai guru GGD. Pertama kali datang ke sekolah, saya cukup kaget dengan kondisi SMA Negeri 1 Semau Selatan  yang berdiri sejak 2011, yang masih serba seadanya. Jangan bayangkan fasilitasnya dengan sekolah-sekolah lain di daerah lain. Karena keterbatasan meja dan ruang kelas, tak jarang proses kegiatan belajar mengajar diadakan diluar ruangan yakni dibawah pohon beringin. 

Aktivitas sehari-sehari saya habiskan untuk mengajar di pagi hari. Memasak sepulang sekolah, mengambil air ke embung selepas masak dan mencuci baju di sore hari. Malam hari saya harus mempersiapkan materi mengajar dan menyelesaikan tugas-tugas mengajar sembari melepas rindu via telepon dengan istri tercinta. Pada hari libur saya manfaatkan untuk menyelesaikan tugas sekolah kalau ada. Terkadang menikmati keindahan alam Semau dengan mengunjungi tempat wisata di daerah ini atau berkunjung ke rumah penduduk untuk menjalin tali silaturrahim  dengan mereka. Setidaknya cara tersebut dapat menghilangkan kejenuhan dan tekanan akibat aktivitas yang cukup berat di daerah 3T.

Jauh dari anak istri dan keluarga, untuk berada di tempat yang serba terbatas seringkali membuat saya hampir menyerah. Dari kondisi yang serba ada dan nyaman di kota kelahiran menuju tempat yang menuntut hidup serba prihatin adalah hal yang tak mudah. Namun hidup adalah tantangan, dan saya harus bisa menaklukkan tantangan ini. Ketika saya ditanya kenapa kamu mendidik di pedalaman? Maka dengan bangga saya jawab “karena di Jeparaku tercinta, belum saya temukan luasnya Indonesia”.

TRI SUSANTO
Buku #sayabelajarhidup ke-9: Nusantara Berkisah 01 (2018)

Bagikan :

Advertisement