Havana Brown (03): Aksi “Sang Penyihir”

NYALANYALI.COM – Ditemani Wiwien Sukma penanggung jawab tiket, kami meninjau outdoor cafe. Yang tertata artistik dengan bangku-bangku bar  tinggi dan free flow drink unlimited sponsor minuman multinasional asal BelAnda. Tepat berlokasi sebelum menuju entry gate. Tempat Rave Party ini digelar.

Senja tergelincir bersalin rembulan. Atmosfir sejuk, sisa rinai hujan petang. Desir angin samar. Aliran penonton berdatangan. Sepasang kekasih kasmaran berdekap. Geng remaja pria berceloteh. Sekumpulan sosialita wangi cekakak cekikik. Dengan cat rambut warna warni. Bertank top dan you can see. Mempertontonkan lekuk-liku ragawi. Mengasongkan berahi.

Sekelompok selebrita melintas. Dengan hotpant ketat kain terbatas. Merumpi. Sambil  melirik gerombolan lawan jenis. Di sudut lain sejoli berpagutan. Dan sekerumun lelaki memarkirkan mogenya. Dengung perbincangan meruap di udara. Malam memang masih belia.

Setelah DJ Tiara Eve. Akhirnya yang ditunggu muncul, DJ Havana Brown. Rupanya ia konstituen klub salah kostum. Lingerie hitam menerawang justru dikenakan diluar. Membalut erat lekukan erotis bodinya. Dengan belahan dada rendah. Menyembul subur sentosa. Kaki jenjang belalangnya melayang. Menyibak pentas.

Langsung menggebrak dengan Where Have You Been Rihanna, yang sudah dimashup. Hampir 5000 orang berjingkrak. Mengalun. Mengombak bersama. Menggetarkan lantai. Ribuan glowstick berpendar. Mengayun. Warna warni . Gaib laksana ilusi. Mengada dari yang tiada.

Havana Brown adalah anak kandung dari Rave Party. Mengutip Bre Redana dalam artikelnya di booklet acara ini, Rave Party Nostalgic-Futuristik. Sub budaya  Keriaan Rave adalah hasil dari keinginan “mengalami”,  experiencing. Pengalaman terbawa alunan musik yang memiliki daya techno-psychedelic. Sensasi yang hanya bisa dirasakan mereka yang terjun langsung dalam pusaran acara seperti Rave Party. Persis!

We Run The Night menjadi tembang pamungkas.Tepat ditengah. Dibalik DJ set. Laksana Venus  sekaligus Dewi Perang. Dengan rambut pirang menjuntai. Sesosok tubuh semok gemulai, ranum. Merapal mantra. Menggerakkan ombak, meriak gelombang. Dengan  sphere of influence  merasuk. Menebar energi teror. Yang mengguncang  sekeliling tembok pertunjukan. Menggulung.  Jarinya mengepal. Menikam langit. Ruang waktu digenggamnya.

Andai ia lahir di Abad Kegelapan. Saat terjadi perburuan para witches. Naga-naganya ia Penyihir Agung dari segala ratu syaman. Mungkin memimpin serangan balik massa ke para Inkuisitor Akbar. Menjungkirbalikkan keadaan. Pemburu jadi yang diburu. Menyimpangkan jalannya sejarah.

Ia kristalkan spirit vitalitas ribuan orang. Dihimpun. Diolah. Lalu dihentakkan. Dimuntahkan kembali ke segenap penjuru audiens.

When the sun goes down, down, down
Boy are you afraid of the dark, dark?

And when the world screams “sound, sound, sound”
Where the sound is the key of my heart, heart…

Saya sudah menonton banyak  kali konser hidup musisi, vokalis dan DJ  pria ternama nan kharismatis. Tapi vokalis dan DJ perempuan ? Hmm, jarang terjadi. Sekedar saran Jika ada 100 hal yang harus dilakukan sebelum mati. Percayalah. Salah satunya adalah menonton langsung konser Havana Brown.

Saya bergegas menuju ke belakang panggung untuk mengucapkan selamat. Basa basi singkat dengan Bodyguard tinggi besar di depan pintu. Baru sesaat membuka pintu ruang artis, tak sempat menyapa.Havana langsung menodong.

“Bagaimana performance saya malam ini ?”

Saya terpaku sesaat. Teringat perkataan seorang sahabat wanita Manager  sebuah jaringan radio ternama yang bilang barusan, penampilan Havana Brown keren banget. 

“Memukau.” Jawab saya tanpa ragu.

Really ?” tanyanya dengan mata membelalak jelita. Seakan butuh kepastian.

Yeah, terasa energi, gairah, antusiasme waktu di panggung,” seraya  menuju sofa.

“ Pasti sebentar lagi bikin dunia tekuk lutut, ” sergah saya sedikit bercAnda.  Pipi dan lehernya sedikit merona.

 “Aha, kamu yang mengundang saya. Jadi pasti bicara begitu,” timpalnya sedikit merajuk.

“Beneran !” ngototku meyakinkan.

Tatapan kami berpapasan, beberapa sekon lampau. Lalu ia menunduk, tersipu.

Aah, sedetik kemudian saya tersadar.  Di bawah panggung, ia hanya perempuan biasa. Eksplorator penempuh jalan. Senang traveling, ingin keliling jagat. Menenggelamkan diri,  mengenyam gelora  panorama baru. Mereguk nikmat mencicip budaya berbeda.  Dan memuaskan dahaga avonturirnya yang membara.

Atau mungkin jauh di relung hati. Ada rasa sepi mendera.

NANDI PRODJO

Baca juga:
Havana Brown (01)
Havana Brown (02)

Bagikan :

Advertisement