Si Jago Galak

NYALANYALI.COM, Kisah – Saya tidak tahu pasti dia keturunan jago Bangkok yang di Gombong atau Ayam Bangkok baru. Yang jelas, waktu masih remaja, dia culun dengan bulu masih belang blonteng dan suara kokoknya yang seperti orang dicekik. Tapi, setelah dewasa kemakine (belagu) puol.

Petantang-petenteng dengan badan tinggi besar, dada membusung, kaki yang kukuh dengan cakar yang keras dan tajam, plus bulu warna-warni yang kinclong. Suara kokoknya nyaring sekali. Tamvan memang.

Namun, sadis dia. Ayam-ayam jago remaja yang mendekat langsung ditladung (diterjang), bahkan yang jelas-jelas menjauh pun diparanin terus dicucuk kepala atau mata mereka dengan paruhnya yang tajam. Kadang, ada yang sampai bucur (bocor berdarah-darah). Sehingga, untuk mengobati, Ayah menggunakan Obat Merah (semacam si B itu loh).

Sementara pada para babon, gak peduli lagi musim kawin atau tidak, kalau dia lagi pengen kawin, dikejarlah itu babon sampai lari pontang-panting sambil teriak-teriak dan bulu-bulunya berhamburan ke mana-mana. Termasuk, ke baju-baju yang sedang dijemur.

Ibu meradang. Dengan sapu rayung, digebuklah itu jago (tentu tanpa sepengetahuan Ayah).

Kadang, ada babon yang saking histerisnya sampai terbang ke genteng atau bahkan rumah tetangga. Sehingga, pulang kantor, Ayah akan mencarinya ke rumah-rumah tetangga. Untuk yang di genteng, biasanya turun sendiri jika merasa sudah aman.

Sekadar informasi, di belakang rumah Eyang, berbatas tembok, terdapat lahan luas yang diisi 3-5 rumah. Satu demi satu rumah itu ditinggalkan penghuninya, karena kematian atau mengikuti anak.

Hingga, tersisa satu rumah yang masih berpenghuni yakni sepasang Nenek sepuh. Sang Kakak sudah sakit-sakitan dan terus-menerus berbaring, sedangkan adiknya cukup sehat dan sering kami dengar sedang menyapu halaman.

Beliau galak sekali. Sering mengusir kami yang masuk ke “kompleks perumahan” itu untuk mengambil bola, layangan, atau kucing yang tersesat. Beliau mengusir kami dengan wajah penuh kemarahan dan sambil misuh-misuh mengacung-acungkan sapu lidinya.

Ayah pun pernah kena semprot ketika mencari babonnya. Tapi, dalam perjalanannya, beliau melunak kepada Ayah. Entah, Ayah memakai “ilmu” apa.

Kami menyebut “kompleks perumahan” itu sebagai Omah Suwung (Rumah Tak berpenghuni/Kosong). Kalau harus lewat Omah Suwung saat Maghrib, kami akan lari sipat kuping.

Kembali ke Jago Galak, begitu kami menjulukinya. Kalau dia berhasil menangkap babon, maka cara ngawininnya juga sadis: ditindih dengan badannya yang besar dan kokoh itu, paruhnya mencocok kepala si babon yang berteriak-teriak. Hasil akhirnya, si babon akan sempoyongan, kepala bucur, bulu brodhol.

Kalau saat proses kawin sadis itu terjadi dan Ibu sedang ada di situ, Jago Galak akan kena gebuk lagi. “Kok sadis men to koweeee…kui laraaaa…yoooo…. Diculke (lepaskan)!” kata Ibu. 

Kalau Ayah melihat akan menanggapi dengan sebal tapi geli, “Ya mereka kawin itu ya begitu. Kalau setiap kali kawin kau gebuk, mereka tidak punya anak”. “Ora cecek (enggak cocok pakai banget ) babar blas aku,” ujar Ibu bersungut-sungut.

26 April 2021

RUSSANTI LUBIS

Bagikan :

Advertisement