NYALANYANYALI.COM, Kisah – Mata kosong menatap jalan raya.Pikiran melayang ke dimensi lain. Sesak hati tak terlihat yang tersisa.
Siang itu seperti biasa, wanita berdaster duduk di bilik kecil yang telah bertahun-tahun membantunya meghasilkan rupiah demi rupiah. Ia tampak mengobrol serius dengan seorang wanita berdaster pula yang belum pernah terlihat sebelumnya. Maklum sebagai bilik kecil yang orang sebut warung rokok yang memadati tentu laki-laki, terutama pengemudi ojol.
Tidak pernah ada rasa takut atau cemas karena sang suami juga pengemudi ojol, wanita berdaster yang bernama Asih ini akan sangat aman. Percaya atau tidak ojol memang seperti almamater sekolah atau perguruan tinggi, yang tadinya tidak kenal tiba-tiba kompak menyebut sesama profesinya adalah saudara.
Berbeda dari biasanya, ia yang selalu memulai komunikasi dengan kalimat, “Mau beli apa mas/bang/ dek/kak?” tiba-tiba di siang yang terik itu terasa semakin terik dengan kalimat pertama, “Mas/bang/dek/kak, maafin Bapak ya kalau Bapak ada salah”.
Kalimat singkat yang tidak dilanjutkan hanya pandangan kesedihan yang luar biasa tersebut mudah saja diartikan yang mendengarnya. Tidak perlu diperjelas, itu adalah kalimat dengan konteks duka cita karena seseorang telah meninggalkan dunia fana ini.
Sebagian besar yang mengenal pasangan suami istri ini tentu saja terkejut, pasalnya selama ini yang mereka ketahui sang istri yang sering jatuh sakit. Kadang pegal, kadang asam urat, kadang sakit kepala, kadang kolesterol, sedangkan mereka melihat sang suami selalu tampak segar bugar.
Namun itulah yang dinamakan, ‘Usia manusia tidak ada yang tahu, hanya Tuhanlah yang tahu”.
Menurut cerita dari Ibu Asih saat menjelang menghembuskan nafas terakhirnya tidak ada yang berbeda. Saat itu masih pagi hari, setelah sarapan suami tengah bersiap-siap untuk mencari rejeki, Ibu Asih meninggalkan sejenak untuk beberes perlengkapan sarapan yang digunakan. Ketika kembali ia mendapati laki-laki yang telah menikahinya 25 tahun lalu duduk di dekat pintu, matanya terpejam. Merasa ganjal Ibu Asih pun menyentuh suami dan mendapatinya sudah tidak ada lagi jiwa yang tertinggal di raganya.
Ibu Asih wanita kuat nan ramah mendadak menjadi sosok yang lemah, belum selesai duka karena kehilangan ibu kandung dua bulan sebelumnya. Ucapan duka cita dan doa yang mengalir untuk almarhum suami dan dirinya mampu menjadi sedikit kekuatan. Namun sesekali rasa sepi pun hadir, selama ini ia hanya berdua hidup dengan suami, keluarganya tinggal di kampung halamannya di Tegal, keluarga suami yang memang asli Betawi sesekali mengunjung namun tetap tidak mampu menghapus sepi. Sebagian jiwanya hilang, terlebih ia dan suami tidak dikarunia seorang anak.
Dan pada hari ke sepuluh suami berpulang ke peraduan Yang Maha Kuasa, ia merasa begitu banyak orang yang peduli, bahkan ada beberapa orang yang peduli sebetulnya tidak pantas diucapkan kepada seorang istri yang baru kehilangan suami. Mencari calon suami baru menjadi doa yang mampu menyayat hatinya. Ia baru saja kehilangan seorang suami bukan hanya sekedar putus dari seorang pacar. Namun seperti namanya, Asih artinya ia yang mengasihi, ia tetap tersenyum dan mengucapkan terima kasih karena telah peduli.
Ia sadar hidup terus berjalan, sedih diperbolehkan tapi ia tidak boleh menyerah. Suaminya akan selalu dalam hati dan dalam doanya. Ia yakin Sang Penguasa dunia akan selalu menjaganya.
NOEKE ANGGARWULAN
Buku #sayabelajarhidup ke-11 Nusantara Berkisah 02: Orang-orang Sakti

