Anak-Anak Hilang

NYALANYALI.COM – Bermunculan berita anak-anak hilang di berbagai platform media sosial. Makin ke sini, makin kerap.

Entah bagaimana perasaan orang-orang tua mereka setiap hari. Tak terbayangkan. Buah hati tak lagi di sisi. Tak terdengar tawanya lagi. Tak terdengar celotehnya lagi. Tak tampak sosoknya kini.

Mengapa hilang? Diculikkah? siapa penculiknya? Buat apa diculik?

Warganet banyak adu argumentasi. Ada yang menyalahkan pengawasan orang tua teledor. Ada yang menasehati ini dan itu, cara itu dan ini agar anak tak hilang. Sudahkah polisi beri pernyataan? Siapa yang harus disalahkan? Negara di mana?

Tapi tak banyak warganet yang membantu menyebarkan informasi tentang anak-anak hilang. Kita memang bebas berbicara, tapi untuk kasus anak-anak hilang, kita diharapkan masif turun tangan, tidak hanya bicara.

Media lebih asyik sendiri dengan berita-berita yang dianggapnya besar dan penting. Hanya sedikit media yang concern terhadap kabar anak-anak hilang ini.

Ini juga persoalan besar, Bung. Sebanding dengan berita tingkah polah rezim dan korupsi.

Bayangkan jika setiap kabar berita anak hilang disampaikan sambung menyambung seluruh warganet dan media berbagai platform, bisa jadi anak-anak hilang cepat ditemukan. Informasi jadi anak panahnya.

Ini persoalan serius. Puncak gunung es. Negara harus hadir. Penculikan anak-anak bukan kasus remeh temeh. Jangan bicara soal generasi emas, jika rangkaian anak-anak hilang tak bisa dipecahkan. Hukum setinggi-tingginya sindikat penculikan, sebanding dengan bandar narkoba.

Dulu, setiap anak-anak diwanti-wanti jangan pernah mau diajak orang tak dikenal. Dulu, anak-anak harus berlari menghindar jika ada mobil mendekat, apalagi yang ada gambar gunting.

Kisah bocah Bilqis yang ditemukan polisi setelah diculik sindikat belum lama ini, menjadi peringatan. Keinginan menculik anak-anak antara lain untuk diperjualbelikan ada . Ada pembeli dan penjualnya.

Anak-anak hilang di negeri ini, berjumlah banyaknya. Belum kembali ke pelukan bapak dan ibunya lagi. Entah di mana mereka berada. Entah bagaimana keadaannya. Anak sekecil itu sendiri. Air matanya barangkali sudah mengering. Doa ayah ibunya barangkali sudah memenuhi langit.

Apa yang bisa kita lakukan?

Bagaimana jika itu anakmu?

S DIAN ANDRYANTO

Bagikan :

Advertisement