Senja Mbah Rembun Makin Mua

NYALANYALI.COM, Kisah – Azan subuh belum terdengar. Tubuh renta itu telah bangkit dari peraduan. Derit pintu tua mengantar dia ke dapur penuh jelaga. Mbah Rembun, perempuan tua sebatang kara. Bukan halangan untuk berkarya menghidupi raganya. 

Sejengkal tanah dan rumah tua tempat dia menikmati sisa hidup. Dapur tempat dia mengolah makanan sejak masih muda tak berubah. RT 3 RW 1 Desa Jatinegara Sempor, Kabupaten Kebumen dia menetap. Dia buat makanan tradisional: ketan, oyek (tiwul), seta beberapa gorengan. 

Gema azan subuh dari masjid berkumandang. Pertanda dia harus sujud dalam sholat yang tidak pernah ditinggalkannya. Seberapa bawaan cukup dimasukkan dalam tenggok dan di atas tampah. Perut juga belum diisi makan, cukup minum air putih hangat agar tubuh sehat itu kata dia sejak dari.muda. 

Tubuh tua berjalan tertatih, punggungnya erat tenggok dan tampah berisi jajanan dibawa untuk keliling desa dengan jalan kaki. “Mengapa tidak mangkal di rumah saja?” tanyaku. “Kalo saya jualan di rumah, nanti saya tidak bisa menengok tetangga yang usianya seumur saya.” Bukan masalah dagangan dia tidak laku, ternyata. Tapi dia sadar teman sebayanya sudah banyak yang sudah tidak mampu untuk jalan lagi. 

Mereka hanya tergolek di pembaringan atau mungkin paling duduk di depan rumahnya. Dengan menjajakan dagangannya keliling, dia bisa menengok teman-temannya walau sudah banyak juga yang lebih dulu dipanggil Tuhan nya. 

Mentari pagi menyeruak dari tidurnya, hangat sinar menerpa tubuh renta Mbah Rembun. Pundi2 keping masuk buli sejalan dagangan laku. Tangan yang sudah berkeriput tak mengurangi cekatan saat membungkus oyek atau ketan dengan daun pisang. Kerabat, tetangga dan pejalan kaki hafal jam saat Mbah Rebun menjajakan makanan itu. Dan mereka setia menunggu untuk membeli guna sarapan pagi. 

Hari belum beranjak siang, jajanan Mbah Rembun sudah ludes terbeli. Sekalian dia mampir pasar membeli bahan baku, sekali tempo dia menengok teman yang tergolek sakit di rumahnya. Tangan tua itu tidak terampil buat makanan saja. Banyak tetangga yang minta bantuan untuk dipijit. 

Hapal betul otot atau syaraf yang mengalami kesalahan, dia urut untuk bisa pulih sediakala. Mbah Rembun menjemput masa tuanya dengan berkarya. Mbah Rembun tak mau hanya menengadah sedekah dari tetangga. Dan, Mbah Rembun berserah pada Allah kapan dia akan dipanggil. 

HARDI NUGROHO
Guru SMPN 1 Ambal Kebumen

Buku #sayabelajarhidup ke-11 Nusantara Berkisah 02: Orang-orang Sakti (2019)

Bagikan :

Advertisement