NYALANYALI.COM, Kisah – Dalam penjara batu ini, 23 tahun aku disekap diam. Penjara terlama dari penjara-penjara lainnya yang pernah kusinggahi.
Dalam penjara batu ini selalu terdengar gelak tawa mereka, selalu terasa sikap rasa bangga menang mereka. Sekaligus ketakutan mereka padaku, lelaki yang dikurung di ruang gelap senyap berbatu.
Perlawanan panjangku mereka anggap sudah berakhir. Menahanku dengan tipu daya, dijauhkan sejauh-jauhnya dari tanah lahirku, bahkan berpindah-pindah tempat membuangku, dijaga ketat di tengah benteng mereka sendiri.
Aku bebas dalam pikiranku, mereka terpenjara dalam ketakutannya sendiri.
Aku merdeka dalam sunyi. Bahkan kuembuskan nafas terakhirku dalam sepi di usia 69 tahunku. Aku ‘pergi’ di Benteng Rotterdam, Makassar, 8 Januari 1855. Aku Bendoro Mas Raden Antawirya. Aku Diponegoro.
***
Bonjol dan Minahasa, onde jauhnya tiada terkira. Di tanah rantau ini, mereka mengucilkan aku. Perang sudah kujalani, bertahun-tahun. Tiada sesal apapun lagi. Meski jauh dari kampung halaman, tempat ninik mamak dan setali sedarah menjaga Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah (Adat berdasarkan Agama, Agama berdasarkan Kitabullah (Al-Qur’an).
Jauh nian tanah asal, dibuang dari Bonjol ke Cianjur sampai Lotak, Minahasa ini. Mereka harapkan terkubur nyaliku, mereka tak pernah dapatkan harapannya itu. Nyaliku tak kendur meski dijaga rapat hidupku.
Bukan mereka yang memiliki hidupku. Tuhanku yang menjaga aku. Dalam sepi aku merdeka hingga akhir hayatku, di tanah pengasingan, 6 November 1864. Aku Muhammad Shahab, kalian kemudian memgenalku Tuanku Imam Bonjol.
***
Mataku telah rabun, 60 tahun ini ujung usiaku. Samar-samar aku melihat. Tapi masih jelas semua dalam ingatanku, tentang perlawananku dan Lempadang, tanah lahirku.
Di pembuanganku ini, masyarakat sekitar tak mengenal siapa aku, mereka hanya tahu, aku perempuan tua, guru ngaji mereka nyaris buta. Mereka menyebutku Ibu Perbu.
Belanda-belanda itu menjaga keras jati diriku. Masyarakat hanya tahu aku orang seberang, orang buangan. Agar tak menular nyali perlawananku. Perempuan renta dan rapuh ini dijaga sedemikian rapatnya. Aku yang merdeka, mereka yang terpenjara.
Di Gunung Puyuh, Sumedang aku meninggal dunia, 6 November 1908. Perempuan tua yang mereka takuti semasa hidupku. Mereka sembunyikan identitasku rapat-rapat. Tapi siapa yang bisa menutupi kebenaran? Jasadku kemudian ditemukan. Aku, Tjoet Nja Dien. Perempuan tua bermata rabun itu yang mereka takuti.
***
Aku masih muda. Aku Pattimura. Di tanah lapang negeriku yang mereka namai New Victoria, mereka kalungkan tali di leherku. Di 34 tahun usiaku, mereka bersiap dengan gantung aku.
Thomas Matulessy nama lahirku. Tak takut sejengkalpun aku menghadapi kematian dengan cara ini. Bukti pengecutnya mereka menghadapiku. Anak muda dari Pulau Saparua yang tak ingin negeri leluhurku dijajah mereka.
Di tiang gantungan itu hari, 16 Desember 1817 aku berkata: …Saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah beringin besar dan setiap beringin besar akan tumbang tapi beringin lain akan menggantinya (demikian pula) saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah batu besar dan setiap batu besar akan terguling tapi batu lain akan menggantinya.”
Aku Pattimura, merdeka dalam sunyi diujung tiang gantungan aku berdiri. Masih bernyali.
***
Di atas kapal Eversten, selepas Tanjung Alang, Laut Banda. Aku terakhir kali melihat Nusalaut tanah asalku. Perlawanan terakhirku kepada mereka, tak makan dan tak mau minum aku pemberian mereka yang membunuh ayahku, menghancurkan negeri tuaku. Lemah kemudian aku yang akan mereka buang ke Jawa.
Di atas kapal yang berayun-ayun di Laut Banda. Aku masih merasakan anginnya yang mengelus rambut dan wajahku sebelum mataku terpejam selamanya. 2 Januari 1818.
Tubuhku kemudian mereka lemparkan ke lautan. Bersatu di dasar Laut Banda. Dalam sunyi aku merdeka. Aku Martha Christina Tiahahu, harus berpulang di usia 17 tahunku.
***
Aku yang mengingat ini hari begitu banyak mereka yang merdeka dalam sunyi. Al-fatehah untuk mereka siapapun itu suku dan agama apapun ia.
Kita yang menikmati merdeka ini hari, akankah bersorak sorai menghancurkan semua mimpi mereka yang hanya bisa “merdeka dalam sunyi”?
S. Dian Andryanto
Buku #sayabelajarhidup ke-7: PITA GARUDA (2017)

