Sukmadi Basir Sang Legenda

NYALANYALI.COM – Sejak SD saya gemar corat-coret menggambar, terlebih setelah Ayah membelikan saya sekotak cat poster “Sakura” sebagai hadiah ulang tahun (1976).

Sewaktu saya duduk di bangku SMP kelas dua (1978), atas nasihat Ayah, saya mengirim contoh komik berwarna bergaya kartun fabel mirip ilustrasi Bobo ke Majalah Fortuna Tomtom, juga ke Ananda, majalah anak dari grup Kartini yang belum lama terbit.

Tidak disangka, selang beberapa waktu kemudian saya mendapat telepon dari Wapemred Ananda, Ibu Titi Sari, agar bertemu dengan beliau untuk sebuah wawancara. Maka keesokan harinya, usai sekolah, masih dengan baju putih dan celana pendek biru, saya naik bus ke redaksi Ananda, Jalan Garuda No. 62, Kemayoran, sambil membawa beberapa contoh gambar lainnya.

Sungguh luar biasa, Ibu Titi Sari bersedia menerima saya sebagai pengisi komik. Sebulan kemudian, bersamaan dengan terbitnya Ananda No. 03 tahun 1978, muncullah komik berjudul “Samba, Kelinci Perkasa”. Sejak saat itu setiap akhir minggu saya wajib mengantarkan “artwork” berukuran A3 ke Jalan Garuda.

Selain saya, di majalah Ananda saat itu ada ilustrator senior yang juga mengisi rubrik komik. Pak Asmadi, mengisi komik “Boy si Pendekar Cilik”, dan Pak NBC Sukma yang mengisi komik superhero berjudul “Safan”.

Gambar: Safan karya NBC Sukma

Gaya lukis Pak Sukma sangat menakjubkan. Banyak menggunakan arsiran dibandingkan sapuan kuas. Mirip dengan gaya Don Lawrence, illustrator dari Inggris yang dulu karyanya “KekaisaranTrigan” dan “Storm” muncul di majalah Hai dan Eppo.

Tentu saja saya sangat penasaran. Ingin bertemu dengannya dan ingin tahu bagaimana cara ia melukis dengan teknik ajaib seperti itu. Sayangnya, setiap kali saya ke kantor redaksi, beliau tidak ada

Tahun 2006, saya memasuki tahun ke-17 menjadi praktisi iklan dan baru saja pindah ke sebuah biro iklan berafiliasi asing bernama Grey Worldwide. Hari pertama berkenalan dengan seluruh staff, tibalah saya ke studio visual. Salah seorang visualizer-nya sedang sibuk mengerjakan gambar dengan spidol dan cat poster. Rasanya saya sangat familiar dengan goresan cat gaya arsir seperti itu.

“Sukmadi Basir. Sukma,” katanya sambil menjabat tangan saya.
“Sebentar, Pak.” Saya tatap wajahnya agak lama. “Apakah bapak NBC Sukma yang dulu mengisi ilustrasi Safan di Ananda?”

Ternyata benar. Waduh! Kami menjadi sangat akrab. Selain “Safan” dulu ia sempat mengembangkan karakter lain: “Rina, si gadis 4 dimensi”, dan “Buyung Kilat”. Semua dikerjakan dengan teknik lukis yang sama. Satu hari satu halaman. Luar biasa.

Bila sedang senggang, saya selalu mampir ke mejanya, ngobrol tentang dunia komik. Ia sempat lama bekerja di Penerbit Lebah, membuat cerita bergambar untuk anak. Sisanya? “Ya, ngomik. Ada penerbit yang mau menerbitkan komik saya,” ujarnya.

Lama setelah saya pensiun dari dunia iklan, saya bertemu lagi dengan Pak Sukma di FB. Saling menyapa dan memberi komentar.

Sungguh terkejut dan sedih, pagi ini saya menerima berita kepergiannya menghadap Sang Pencipta. Selamat jalan, Pak Sukma. Damailah di tempatmu yang baru.

JAKARTA, 25 OKTOBER 2025
IKSAKA BANU

Bagikan :

Advertisement