Otobiografi Eros Djarot

NYALANYALI.COM – 5 September 2024 sore, usai memakamkan Bang Ical di Menteng Pulo, awak mencari seseorang yang bisa mewakili civil society. Akhirnya awak minta Mas Eros Djarot bicara, setelah kuminta mantan Menteri Agama Mas Lukman Hakim Saifuddin memimpin doa serta Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Mas Azwar Anas mewakili negara. Beberapa hari sebelum wafat, Abang masih rapat dengan Mas Eros di kantornya, Bendungan Hilir. Pertemuan yang mengkritisi Jokowi.

Sejak remaja awak mengagumi lelaki ganteng multitalenta ini: musisi, sutradara film, jurnalis, politisi, aktivis, serta budayawan. Selagi cuti karena pilek dan batuk, awak tamatkan semalam buku “Autobiografi Erros Djarot” jilid 1 setebal 657 halaman. Sebuah otobiografi yang relatif jujur dengan cara bertutur ala film flashback.

Dimulai dari telepon Guntur Soekarnoputra yang meminta Eros mendampingi adiknya, Megawati Soekarnoputri, untuk memimpin Partai Demokrasi Indonesia jelang Kongres Luar Biasa di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, pada 1993.

Kisah berlanjut dengan perjalanan hidup Eros, sejak orangtuanya cerai saat ia masih berusia sembilan tahun. Lalu bersama abang sulungnya, aktor dan sutradara Slamet Rahardjo, tinggal bersama bapaknya yang Komandan Lapangan Udara di Balikpapan serta Belitung.

Fitnah terhadap bapaknya, yang dekat dengan Kepala Staf Angkatan Udara Omar Dhani pasca Gerakan 30 September 1965, membuatnya kembali ke Jakarta.

Di ibu kota, Eros mulai ngeband bersama teman-teman SMA-nya di Jalan Budi Utomo, hingga Bambang Trihatmodjo, putra Presiden Soeharto, di Jalan Cendana. Ia pun ngegank dengan anak-anak tentara dan pemuda Menteng dengan segala kenakalannya. Sampai tiarap di atas mobil yang ngebut zigzag tengah malam di Jalan Sudirman.

Ia kemudian merantau ke Jerman. Awalnya jadi buruh pabrik metal di Munchen, lalu kuliah teknik di Koln. Di Bonn, saat calon mertuanya, Illen Surianegara, menjabat Wakil Duta Besar, Eros jatuh cinta kepada putri sulungnya, Dewi, yang sedang kuliah master di Paris, Prancis. Padahal saat itu ia sedang dekat dengan dua gadis, yang kini menjabat Wali Kota Koln dan Rektor.

Lewat perjuangan gigih, Eros serta Dewi menikah di Tunis, sewaktu Illen menjadi Duta Besar di Tunisia. Mertuanya bangga memperkenalkan sang mantu sebagai seniman besar Indonesia. Maklum Eros meraih piala Citra sebagai ilustrator musik film “Kawin Lari” dan “Badai Pasti Berlalu”.

Keduanya karya Teguh Karya, guru teater serta film abangnya di Teater Populer. Illen sampai meminta “seserahan” khusus khas seniman, di luar seperangkat alat sholat dan uang dinar yang masih utang, sehari sebelum perkawinan. Jadilah sang mantu menulis puisi pada malam H-1.

Tapi itu bukan sebuah sajak yang romantis, melainkan tentang kerinduan kepada Indonesia. “Negeriku, cintaku/ Resahmu, resahku/ Jiwa kering di badan yang mengering/ Dalam deru dan debunya kepesatan Kota Jakarta// Sang Maha Segala, aku bertanya/ Ke mana pergimu, negeriku, cintaku?/ Nyanyi ini/ Nyanyian jiwa/ Buat Indonesia, rinduku”.

Puisi “Negeriku” ini menjadi cikal bakal lirik lagu “Negeriku Cintaku” yang kemudian dinyanyikan Keenan Nasution. Illen akhirnya meminta Eros membacakan sajak tersebut dalam resepsi pernikahan pada malam harinya. Sedangkan Dewi menarikan topeng Sunda.

Setelah manggung dua kali di Teater Terbuka, Taman Ismail Marzuki, bersama Barong’s Band, Eros meneruskan kolaborasinya dengan Debby Nasution dalam album “Badai Pasti Berlalu”. Bersama Yockie Soeryoprayogo, Chrisye, Fariz RM, serta Berlian Hutauruk, ia pun menggarap album terbaik musik Indonesia menurut Majalah The Rolling Stones Indonesia ini.

Walau populer sebagai musisi yang membawa warna klasik rock dengan lirik puitis dalam musik pop Indonesia, Eros justru ingin membuat film. Jadilah ia meminta beasiswa kepada British Council untuk belajar film di London. Di sanalah putra pertamanya, Banyu Biru, lahir, lewat persalinan yang nyaris merenggut nyawa Dewi, sebab menderita penyakit jantung sejak kecil.

Enam bulan ditinggal istri dan putranya yang terbang tanpa sepengetahuannya ke Tunis bersama ibu mertuanya, Eros menyelesaikan film dokumenternya bersama seorang rekan kuliahnya yang berasal dari Thailand. Filmnya tentang kehidupan suku pedalaman di daerah pegunungan Thailand. Di sana ia pernah dianggap dukun, karena berhasil menyembuhkan seorang anak yang epilepsi. Eros juga sempat jadi relawan di perbatasan Thailand, untuk membantu pengungsi Kamboja.

Kembali ke Jakarta, ia merintis bisnis pasir, agar bisa menjadi seniman merdeka. Eros sempat pula menjadi dosen di Universitas 17 Agustus dan FISIP UI. Jenuh sebagai aktivis PDI yang feodal, ia kembali rekaman musik bersama Chrisye dan Yockie. Tiga album lahir dari trio Badai ini: “Resesi”, “Nona”, serta “Metropolitan”.

Ketika istrinya pulang ke Jakarta, Eros menggubah lagu “Malam Pertama”. Saat melepas istrinya doktoral di Universitas Sorbonne, ia pun menciptakan tembang “Selamat Jalan Kekasih”. Lagu inilah yang kini kerap disenandungkan cucu perempuan Eros, Janitra. Putri anak perempuannya yang lahir di Aljir, Sekar Putih, waktu mertuanya menjabat Dubes di Aljazair.

Ini baru jilid pertama otobiografi Eros Djarot yang terasa lebih personal. Jilid keduanya akan banyak menyinggung politik, seperti Megawati, penculikan aktivis, hingga kerusuhan Mei 1998.

Depok, 30 Oktober 2025
RAMDAN MALIK

Bagikan :

Advertisement