Pameran Sanggar Bambu di Salihara

NYALANYALI.COM – Awak terpesona tiga lukisan Danarto pada 2000-an begitu memasuki ruang pameran bulat Salihara semalam. Ketiganya berlatar belakang putih, kontras dengan anek warna dan detail mengagumkan dari kisah wayang. Perupa yang lebih terkenal sebagai cerpenis sufi ini wafat tujuh tahun silam, setelah ditabrak di Ciputat.

Awak menikmati lukisan keren itu bersama karya-karya pelukis Sanggar bambu. Lukisan Irsam, “Anak Gembala”, lagi-lagi memperlihatkan detail nan elok. Lukisan pastel Titis Djabarudin kembali menampilkan figur-figur yang menengadah ke atas. Sebuah lukisan Soenarto Pr berangka tahun 1958 merekam perempuan Bali.

Sanggar Bambu didirikan mendiang Soenarto Pr dan kawan-kawan pada 1 April 1959 di Jogja. Di tengah riuh Lembaga Kebudayaan Rakya (Lekra) yang onderbouw Partai Komunis Indonesia, Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) yang bagian Partai Nahdhatul Ulama, dan Lembaga Kebudayaan Nasional di bawah Partai Nasional Indonesia.

“Ketika SMP atau SMA, saya pertama kali melihat pameran mereka di Pekalongan. Lalu, pada 1962, saya tinggal bersama mereka di Pasar Rumput. Pelukis-pelukis miskin, tapi lebih miskin lagi saya yang sastrawan. Saat itu saya gratis makan tidur di tempat mereka yang sedang mengerjakan relief di Kemayoran,” kata Goenawan Mohamad pas pembukaan pameran.

Foto: Istimewa

Kisah GM menggambarkan Sanggar Bambu yang lebih merupakan komunitas, bukan lembaga seni partisan. Mereka tak cuma melukis, tapi juga bermusik dan berteater. Kirdjomulyo menggubah Himne Sanggar bambu. Soenarto pun pernah membiayai pentas Oedipus Rex – Bengkel Teater Rendra.

Walau pendirinya sudah wafat, sanggar ini masih hidup hingga kini. Diteruskan anak-anak pelukis Sanggar bambu yang juga banyak melukis. “Sanggar bambu tidak akan dibubarkan dan akan tetap dipertahankan hingga anggota terakhir,” kata Soenarto Pr pada 9 april 1998, sebelum wafat pada 24 Juli 2018.

Jakarta, 03 Oktober 2025
RAMDAN MALIK

Bagikan :

Advertisement