Sebentar lagi azan zuhur melantun. Aku dan pak tua ini masih menikmati teh manis dengan gelasnya masing-masing. Kendaraan tak berhenti melintas. Asap buangannya terhisap hidung kami dan terbaur aroma teh dalam gelas. Pak tua di hadapanku tak acuh. Asik menikmati sebatang sigaret.
Cahaya matanya meredup. Keriputnya kian berlipat, ketika ia menyebut hanya satu penumpang didapat sejak azan subuh selesai berkumandang.
Lalu aku tunjukkan hasil serupa. Dan mengajaknya menertawai nasib, melupakan berjenak-jenak doa istri agar rejeki suami sederas air bah. Walau ternyata menguap entah ke mana.
Enkong Is (lebih tenar dari nama aslinya: Iskandar), panggilan karib dari rekan ojek online di kota kami. 69 tahun usianya. Namun tak dapat menikmati masa uzur berleha-leha, atau menimang cucu layaknya para pensiunan. 15 jam sehari ia habiskan waktu di atas roda. Dijilat matahari, pun dikecup hujan.
Bergabung menjadi mitra perusahaan ojek online milik Nadiem Makarim sejak tahun kedua berdiri. Engkong Is menjadi senior kami. Raja diraja para ojol, The King, dan jadilah dirinya kujuluki King Kong Is.
Ia pernah mengantar penumpang dari Depok ke Jurangmangu, yang jaraknya lebih dari 40 kilometer. Kemudian nyasar mencari jalan pulang. Di lain hari, harus mengirim lusinan barang dari toko material, atau mengantar makanan lezat dari restoran yang hanya bisa dinikmati bau harumnya.
Satu pengalaman yang tak pernah ia lupa, ketika membonceng seorang janda ke Tapos, yang wilayahnya sepi itu, malam hari saat deras hujan membanjur. Di rumah sang janda, ia ditawari kopi, dan tubuh mulus berbalut daster.
Tangan Engkong Is tremor saat mengangkat kuping cangkir. Lututnya kian ngilu, bukan sebab hawa dingin angin malam. “Saya tak berani lebih jauh”, ceritanya. Wajah istri membawanya pulang sebelum lenguhan laknat itu terjadi. Dalam perjalanan ke rumah, setiap tetesan hujan laksana tikaman rindu untuk belahan jiwa.
Istrinya yang terpaut empat tahun lebih muda, bekerja pada produsen hijab dekat rumah. Tugasnya menjahit renda dan mengawasi pengiriman barang pada pembeli dari berbagai provinsi. Maka, Engkong Is hanya boleh mengojek hingga Pukul 8 malam. Kendati uang hasil jerih payah hanya 20-30 ribu Rupiah. Istrinya selalu membisiki, esok hari akan ada rejeki lebih baik. Tak usah memaksakan diri.
Aku semakin haru, ia berjuang bersama istri melanjutkan hidup. Tak sedikit pun meminta bantuan finansial dari anak perempuan mereka. “Ia milik suaminya. Harus memikirkan keluarga. Tak elok merongrong menantu yang sudah berbeban berat untuk rumah tangganya.”
Obrolan kami berhenti saat tersiar berita di televisi pemilik warung. Usai kenaikan iuran BPJS, tarif listrik ikut latah. Mata Engkong is mendadak sayu. Mulutnya menggumamkan ucapan ikonik Khalifah Ali bin Abi Thalib: Orang miskin seperti warga asing di negara sendiri.
Lalu ponsel berdering tanda masuk order. Walau antaran lumayan jauh, Engkong Is kembali tersenyum. Hari ini, katanya, ia yakin bawa lebih banyak uang saat pulang. Hidupnya sesedarhana itu saja.
SANDY PRASTANTO
Buku #sayabelajarhidup ke-11 Nusantara Berkisah 02: Orang-orang Sakti (2019)

