Namanya Bu Sarkem

NYALANYALI.COM – Wanita paruh baya ini asal dari Karawang, Rengas Dengklok, katanya. Baru 5 hari ikut bos pengepul di belakang SPBU di samping gerbang komplek tempat tinggal saya.

Bu Sarkem mencari barang bekas bersama anak laki-laki kecil yang saya kira anaknya, ternyata cucunya. Anak laki-laki kecil yang bersih dan ganteng.

“Sekolah nggak?” Tanya saya.

“Enggak Bu!, Anaknya nggak bisa bicara!”

“Maksudnya bagaimana? Gagu atau bisu?”

“Bukan, susah aja bicaranya, enggak jelas gitu!” Jawab si nenek.

“Coba sini, saya lihat leher dan lidahnya!” saya yang sok tau kepengin lihat, lidahnya pendek atau tidak.

Dengan malu-malu dia mendekat.
Lalu saya lihat lidahnya panjang (normal) dan dia juga tidak tuli.

” Mau sekolah nggak?”

Dia menggeleng sambil tersenyum.

“Kenapa nggak mau?”

“Ya begitu lah, Bu. Anaknya susah diajari ngomong. Emaknya juga ini-nya kurang, mana lagi punya bayi!” Jawab Bu Sarkem sambil menunjuk kepalanya.

“Bagaimana maksudnya?”

” Jadi, dulu anak saya pernah sakit sampai kejang-kejang, begitu sembuh jadi kayak orang ‘kurang’! Punya laki juga nggak ada tanggung jawabnya!”

“Kalau begitu, jangan sampai beranak lagi! Harus KB, nanti makin susah hidupnya!”

Setelah puluhan tahun, baru hari ini saya bicara menggunakan kata “beranak ” kepada manusia.

Sebab dulu pernah 11 tahun tinggal di lingkungan yang terbiasa mendengar orang bicara dengan kata “beranak” untuk manusia.

Duh, maafkan
Tapi kali ini karena saya ikut geregetan,
“Iya, Bu. Sudah dipasang implan!”

Selama tubuh saya lemas dan tidak bertenaga sampai tidak kuat menuang air minum dari teko ke gelas, saya minum air mineral kemasan 600 ml. Setiap hari saya minum antara 4-5 botol. Tiap hari si Teteh yang membukakan botolnya.

Nah, botol-botol bekas itu saya kumpulkan dan saya berikan ke pemulung yang lebih sering ke pemulung ibu-ibu.

Pernah juga saya berikan ke bapak-bapak yang pincang, begitu karungnya penuh, dia berhenti lama. Sampai saya khawatir, jangan-jangan si bapak sakit atau stroknya kambuh.

“Bapak sakit?” Tanya saya sedikit khawatir.
“Enggak, Bu! Saya lagi ambil korek mau merokok!”

Nah, sejak itu saya menunggu pemulung wanita saja, supaya karungnya cepat penuh dan segera pulang sebelum panas terik di planet Bekasi menampakan wujudnya.

Saya agak perhitungan memberikan sesuatu kepada laki-laki yang merokok.

Akhirnya pagi ini ketemu dengan Bu Sarkem. Buruh tani di Karawang yang sedang mengisi waktu luang dengan mengadu nasib menjadi pemulung di Bekasi.

“Terimakasih, ya Bu! Alhamdulillah, kalau sudah rejeki tidak akan kemana!” Ucapnya sambil mendoakan saya panjang lebar, sampai saya merinding mendengarkan doanya yang begitu panjang. Hanya karena saya memberikan botol dan kardus bekas.

“Aamiinn… terimakasih doa-nya, ya Bu!” Jawab saya.

“Jangan tinggalkan shalat, ya Bu!” Pesan saya.

“Iya Bu, saya dan suami keluar bedeng setelah selesai shalat subuh!”

Dalam sekejap karungnya sudah penuh. Rona bahagia jelas terpancar dari wajahnya yang menghitam terpapar matahari langsung, tanpa tabir surya sederhana sekali pun.

Dan ternyata ketika saya minta izin memotret, baru ‘ngeh’ ternyata mata kirinnya sepertinya rusak, karena berwarna abu-abu. Entah masih berfungsi dengan baik atau tidak.Wanita-wanita kuat banyak bertahan dengan kehidupan yang keras.

Wanita-wanita kuat banyak bertahan dengan kehidupan yang keras.
Kadang masih punya pasangan tapi tidak bisa diandalkan.

Dan sebagian wanita yang memilih hidup sendiri meskipun harus bertanggung jawab memberi makan banyak anak.

Semoga para wanita-wanita kita yang hebat di luar sana tetap berjuang dengan ikhlas dan ridho dengan takdir-nya.

” Ya Allah, kabulkan doa Bu Karsem untuk hamba, aamiinn….”

Bekasi, 4 Januari 2026
NUNING INDRIASTUTI SUDARMO

Bagikan :

Advertisement