Kuliah Terbuka Romo Setyo: Demokrasi, Agonisme, dan Oposisi Permanen

NYALANYALI.COM – Awak mampir ke Perpustakaan Nasional, Senin, 6 Oktober 2025, menyimak kuliah terbuka Romo Augustinus Setyo Wibowo. Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara itu memaparkan hasil percakapannya dengan Chat GPT tentang agonisme. Sebuah tawaran filsuf Belgia, Mouffe, yang menyerukan hubungan di antara lawan politik tidak saling menentang dan tak mendeligitimasi lawan.

Mouffe mengkritik Habermas dan Rawls yang mengutamakan konsensus. Menurutnya, demokrasi tidak berhenti pada prosedur liberal. Ia mengusulkan populisme kiri sebagai jalan keluar. Ribet buat awak dalam keadaan yang sudah sangat kritis seperti sekarang. Tapi kalau bisa ribet, kenapa harus digampangin? Begitu canda banyak orang yang sinis terhadap filsafat.

“Mungkin bukan subjek kuat yang kita perlukan, tetapi subjek yang retak,” kata Romo Setyo, usai mengurai pesimismenya terhadap politik tanpa oposisi kini, media massa yang berujung cuan, serta ruang publik nan riuh di media sosial. Subjek retak adalah individu yang sadar keterperangkapannya dalam jejaring kuasa, tetapi masih menciptakan ruang kebebasan kecil.

Politik yang digerakkan kesadaran ini hidup karena konflik. Demokrasi bukan mencari harmoni ala filosofi kekuasaan Jawa, tapi menyediakan ruang bagi perbedaan. “Tanpa konflik, politik berhenti bernapas. Tanpa lawan, demokrasi kehilangan jiwanya,” kata Romo Setyo. Ia menyayangkan politik kiri yang diberangus sejak 1965. Kini tinggal politik kanan yang berujung cuan.

“Lalu apa yang harus saya lakukan?” tanya seorang pemuda dalam sesi diskusi. Doktor Universitas Sorbonne ini mencontohkan garuda bersirene pada 22 Agustus 2024 di medsos yang mengajak civil society demo di Mahkamah Konstitusi dan DPR buat mencegah “permainan legal” agar Kaesang bisa maju Wagub Jateng, setelah abangnya lolos cawapres. “Tanpa rapat, massa demo,” ujarnya.

Romo Setyo juga mengilustrasikan kemarahan rakyat kecil, setelah pengemudi ojek online Affan Kurniawan gugur dilindas panser Brimob pada 28 Agustus 2025. “Banyak orang live di Tiktok. Itu sebabnya Kemenkomdigi mau larang Tiktok,” kata dia. Meme, tagar, poster, live, dan berbagai postingan di medsos jadi medium perjuangan baru di tengah lembaga demokrasi yang berubah jadi trias thieves.

RAMDAN MALIK

Bagikan :

Advertisement