Ada rasa khawatir juga saat kamu minta izin untuk bergabung dengan ribuan teman-temanmu pergi ke Gedung DPRD Surabaya. Apalagi sebelumnya, banyak korban dari mahasiswa di berbagai daerah karena petugas begitu sangat represif menangani para calon pemilik masa depan ini. Bahkan sampai ada orang tua yang harus kehilangan putra tercintanya, hanya karena
Nak, belum genap satu semester engkau kuliah, tapi pemahamanmu tentang situasi negara ini sudah melebihi mereka yang sudah bergelar Doktor atau bahkan Profesor yang membela para koruptor. Tentang pemahaman nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945, pemahamanmu juga lebih bagus dibanding para koruptor. Para koruptor yang selalu mencitrakan dirinya Cinta Indonesia, Cinta Pancasila ditambah lagi dengan slogan NKRI Harga Mati, ternyata dia ntara mereka ada yang sudah menjadi “pasien KPK”.
Hal yang bikin pikiranmu dan kawan-kawan kampusmu terganggu adalah sudah putusnya urat malu para koruptor. Begitu mereka melihat peluang untuk mendapatkan rupiah (bahkan dolar) yang bukan haknya, mereka sudah lupa dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dan batang tubuh UUD 1945. Itulah salah satu yang menjadikan kamu dan teman-temanmu berjuang untuk “menempatkan koruptor pada tempatnya”. Inilah agenda besar reformasi yang harus segera diselesaikan.
Nak, jangan khawatirkan mereka yang nyinyir dengan gerakan yang kamu kobarkan bersama teman-temanmu. Apalagi kalau mereka beranggapan gerakanmu dan teman-temanmu ada yang menunggangi. Anggap itu angin lalu dan tetap fokus pada agenda utama, yaitu menuntaskan agenda reformasi. Jangan sampai reformasi yang sudah dimulai oleh kakak-kakak kalian di Tahun 1998, ditelikung di tengah jalan agar para koruptor lebih leluasa dalam mengeruk uang negara.
Ayah tahu Nak, yang kamu perjuangkan saat ini sudah pasti bukan untuk kepentingan orang tuamu, karena bisa jadi umur kami tidak sepanjang umurmu. Tapi saat ini kamu tengah memperjuangkan masa depanmu, juga masa depan anak-anak dan cucu-cucumu kelak. Kamu pasti tidak rela jika anak dan cucumu nanti mendapat warisan ketidakadilan akibat para koruptor yang semakin bebas berkeliaran.
Hidup ini keras Nak.
Yang Ayah gak sangka, ternyata kamu begitu cepat belajar. Masih terbayang ketika kamu baru saja dilahirkan. Ayah begitu bangganya punya anak lelaki, karena kakakmu yang lahir pertama adalah perempuan. Tangisanmu kadang membangunkanku di tengah malam. Di sekolah, meski kamu bukan di ranking pertama, tapi nilai-nilaimu bikin kami bangga. Sehingga, ketika engkau diterima di perguruan tinggi negeri di Surabaya, kami sebagai orang tua memiliki kebanggaan tersendiri. Begitu banyak orang tua yang menginginkan anaknya kuliah di kampusmu, tapi mereka tidak kesampaian. Makasih ya Nak, kamu sudah bisa menjadi contoh adikmu.
Belum genap satu semester engkau duduk di bangku kuliah, ternyata kepedulianmu terhadap pemberantasan korupsi sudah lebih besar dari yang Ayah bayangkan. Tetaplah berdiri berseberangan dengan para koruptor. Karena apapun alasannya, para koruptor ini cepat atau lambat bisa menghancurkan negeri ini.
Spanduk yang engkau bentangkan, bukanlah sekedar barisan kata-kata tanpa makna. Narasi yang dibacakan oleh teman-temanmu bukan hanya kalimat yang sia-sia. Di sana tersirat harapan dari jutaan masyarakat Indonesia, yang menginginkan negeri ini bebas dari korupsi, bebas dari para pemimpin yang senang menghisap uang rakyat, bebas dari pemimpin yang tidak peduli terhadap penderitaan rakyat dan bebas dari para politisi yang sibuk mengembalikan modal kampanyenya.
Teruslah bergerak Nak.
Bukan hanya doa orang tuamu saja yang akan bersamamu, tapi doa dari ratusan juta orang yang peduli dengan gerakanmu akan selalu ada di setiap langkahmu. Kekuatan doa ini akan mengetuk pintu langit, dan ratusan doa ini akan sampai ke Dzat Yang Maha Kuasa, yang pada akhirnya, cepat atau lambat, akan membuat negeri ini akan menjadi negeri yang Baldatun Thoyibatun wa Rabbun Ghofur. Negeri yang penuh kemakmuran dan berlimpah barokah Allah SWT serta berlimpah ampunan dari Allah wa Jalla.
Naskah dan Foto Dok.: Wasta Gunadi – Jakarta
e-mail: wastagun@yahoo.com
Buku #sayabelajarhidup ke-11: Nusantara Berkisah 02 – Orang-Orang Sakti (2019)

