Pameran Seabad Sadali

NYALANYALI.COM – Entah apa yang mengaduk perasaan, awak seperti ingin lari sambil menjerit ketika memasuki pameran seabad Ahmad Sadali di Selasar Sunaryo, Bandung, kemarin siang. Rasa yang awak alami saat melihat Ka’bah pertama kali pada 2015. “Barangkali surga itu keharuan yang dalam,” kata penyair dan kritikus sastra Subagio Sastrowardoyo, sewaktu awak mewawancarainya sekitar 30 tahun silam, beberapa bulan sebelum wafat.

Rasa yang membuncah sampai kedua mata awak akhirnya basah di depan sebuah lukisan Sadali yang mengutip Suroh Al Isro’ ayat 81 dan 82. “Dan katakanlah: Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. Dan Kami turunkan dari Al Quran (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al Quran itu) hanya akan menambah kerugian.”

Almarhum Abang yang wafat pada 5 September 2024 lalu kerap merapal kedua ayat ini, saat mengimami sholat Subuh, semasa awak kanak hingga mahasiswa di rumah orangtua dulu. Statement bahwa yang hak pasti menang dan yang batil pasti kalah, bagai lirik lagu “We Shall Overcome”. Juga Al Qur’an sebagai penyembuh hati pada saat kita merasa kalah.

Sekitar 70 lukisan dan drawing Sadali dipamerkan dalam dua ruangan. Karyanya merentang sejak 1949 yang masih kubistik, sampai 1987 berupa kotak-kotak coklat menyerupai gunungan, dengan puncak samar bertuliskan Allah yang menyisakan warna emas khas Kang Dali.

37 tahun silam, pelukis Indonesia yang paling awak sayangi ini wafat, sepekan setelah pameran lukisan terakhirnya di Erasmus Huis, Jakarta. Pameran yang tak sempat awak datangi, sehingga menjadi penyesalan seumur hidupku.

Selain drawing hitam putih Sadali yang baru kemarin awak saksikan, dua lukisan tiga dimensi menarik perhatianku. Kerut-merut pasta pualam yang menjadi bahan melukis mendiang menggelembung, bak jantung pemompa darah ke seluruh tubuh. Pun bongkahan emas memanjang yang mengerucut ke depan di tengah kanvas kebiruan.

Setiap menikmati karya Sadali, awak selalu merasa hanyut bak dalam samudera meditatif tak bertepi. Awak suka sebuah puisi pendek mendiang Ajip Rosidi yang menulis pengalaman spiritual dan estetis itu. “Di Hadapan Lukisan Sadali” judulnya, dalam buku kumpulan puisi “Sajak-sajak Anak Matahari” yang diterbitkan Pustaka Jaya pada 1979. “Dalam keindahan kutemukan keheningan/ dan dalam keheningan kudapati kesalihan”.

Selain pelukis abstrak serta guru besar Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB), Kang Dali juga dikenal sebagai spiritualis. Ia pernah memimpin Majelis Ulama (MUI) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jawa Barat, pendiri Masjid Salman yang dinamakan Presiden Soekarno dan Universitas Islam Bandung (Unisba), serta berdakwah lewat ceramah maupun tulisan. Awak sempat mendengar dan membacanya dalam ruang pameran dokumentasi perjalanan hidupnya.

Ayahnya seorang tokoh Muhammadiyah di Garut, di samping pengusaha batik dan perkebunan jeruk yang penggemar musik Barat. Adiknya, Ahmad Noe’man, arsitek keren serta pelukis kaligrafi kufi nan elok nian yang memiliki radio jazz, KLCBS, di Bandung. Bahkan, Kang Dali sempat memimpin Radio Republik Indonesia (RRI) ketika siaran darurat pada 1947. Itu sesudah ia gerilya melukis pamflet perjuangan di Jogja pada 1946, bersama pelukis Agus Djaya, Otto Djaya, dan Henk Ngantung.

Sungguh hidup yang bernas: pejuang, pelukis, dosen, serta pendakwah. Sadali menunjukkan kepada dunia apa yang sering ditulis atau diucapkannya langsung dalam laku sehari-hari. Akal, rasa, dan iman yang berkelindan asyik, dalam sosoknya sebagai intelektual, seniman, serta ulama. Hingga ajal menjemputnya pada suatu Subuh, waktu ia biasa melukis, dalam lelap.

Depok, 13 Oktober 2024
RAMDAN MALIK

Bagikan :

Advertisement