Investasi: Kiat Untung Menanam Uang Dalam Tanah

NYALANYALI.COM, Investasi – Kalau Thomas Robert Malthus mengajukan teori mengenai perbandingan pertumbuhan penduduk dengan bahan pangan, maka mungkin perlu ada teori lain untuk pertumbuhan penduduk dengan ketersediaan lahan. Pasalnya, kian hari, persoalan lahan kian merumit terutama di daerah-daerah yang memiliki tingkat kepadatan penduduk yang tinggi. Keterbatasan lahan ini, bagi para pemilik uang, kemudian dilihat sebagai sebuah celah yang menyimpan peluang investasi tersendiri. Dan, instrumennya adalah tanah.

Tanah merupakan pilihan instrumen investasi yang paling aman, dibandingkan instrumen yang lain. Sebab, nyaris tidak ada risiko besar yang berbuntut kerugian jika orang masuk ke area ini. Nilai tanah terus naik, dari tahun ke tahun. Memang, jika dibandingkan dengan pilihan investasi yang lain, pergerakan harga tanah tergolong lambat. Juga, tidak memiliki kepastian mengenai besaran kenaikan dari tahun ke tahun, sebagai return bagi investor tanah. 

Satu hal yang patut dicermati adalah mengenai dampak dari pertumbuhan industri properti dan infrastruktur belakangan ini. Kondisi ini sangat berpengaruh pada prospek investasi tanah. Pasalnya, pemerintah maupun pengembang dalam melakukan pembangunan, tentu  akan membebaskan lahan itu. Selain itu, lahan yang strategis juga kerap disewakan untuk mereka yang membutuhkan.

Hanya, sama seperti instrumen-instrumen yang lain, sebelum memutuskan untuk berinvestasi, investor harus jeli melihat peluang pasar. Pasalnya, membeli tanah untuk  mendapatkan gain dari penjualan atau penyewaannya, harus memperhatikan juga beberapa hal utama. Yang terpenting adalah letak atau lokasi tanah. 

Menurut Sadeni Hendarman, Direktur PT Permada Binangun Jaya – sebuah perusahaan properti, ketika itu mengatakan, investor tanah haru memperhatikan letak atau lokasinya tanah tersebut. Pasalnya strategis atau tidaknya sebuah lokasi, akan sangat menentukan berapa besar keuntungan yang akan diperoleh investor di masa yang akan datang. 

Kadang, secara kebetulan orang dapat meraih keuntungan dari penjualan lahannya. Ini bisa saja terjadi karena lahannya terpaksa harus dilepas untuk keperluan tertentu, seperti pembangunan infrastruktur atau pengembangan pemukiman baru. Namun, tidak sedikit juga yang justru ‘apes’ dalam kejadian-kejadian seperti ini. Apalagi jika, modus invetsasinya dengan membeli lahan seluas-luasnya, tidak memperhatikan aspek legalitas dari lahan tersebut. 

Itu sebabnya, Sadeni menambahkan, selain letak yang strategis, investor juga harus memperhatikan aspek legalitas dari lahan itu. Sebelum membeli, investor harus melacak asal muasal tanah tersebut, jika itu merupakan tanah warisan maka perlu diteliti, bagaimana proses pembagian warisan itu. Akan sangat berbahaya jika ternyata itu merupakan lahan sengketa.“Artinya surat-suratnya beres atau tidak, karena kalau faktor ini bermasalah, maka investor akan menuai kesulitan di kemudian hari.”

Soal strategisnya lokasi, tidak selalu harus berada di dalam kota, atau di dekat jalan utama. Pasalnya, bagi mereka yang hendak mencari lahan untuk permukiman, akses masuk ke lokasi menjadi nilai lebih yang dapat mendongkrak nilai tanah.

Tidak sedikit investor tanah dalam jumlah yang besar, menjuala tanahnya secara langsung kepada mereka yang membutuhkan. Biasanya cara penjualan seperti ini, membuat si investor tidak terlalu repot dengan urusan lain-lain. Namun, tidak sedikit juga investor yang menyulap tanahnya menjadi areal siap bangun, sebelum menjualnya. 

Seorang investor tanah, yang menjadi pengembang di Kalimantan Selatan, beberapa waktu lalu menuturkan, dirinya memperoleh keuntungan yang lebih tinggi dengan menyulap tanahnya menjadi kaveling lebih dahulu. Kaveling yang dimaksud adalah petak-petak lahan yang sudah dibagi berdasarkan ukuran yang beragam. 

Pada lokasi ini, investor juga membuka akses jalan menuju lokasi. Selain itu, juga infrastruktur lain seperti listrik dan air minum. Memang, untuk mengadakan fasilitas-fasilitas itu, ditambah juga dengan pembangunan saluran air, investor juga harus merogoh lagi sakunya. Namun, implikasi terhadap harga tanahnya pun luar biasa. Tanah per  meter yang tadinya misalkan dibeli seharga Rp10.000 per meter, dalam tempo beberapa tahun, melonjak hingga 150 bahkan 200 persen.

MAJALAH MANLY

Bagikan :

Advertisement