Cerita dari Serasan: Reo Nelayan Vietnam dan Teror Tokei

NYALANYALI.COM, Kisah – Berkesempatan melakukan riset ke Natuna, tepatnya ke Pulau Bunguran Besar, Pulau Serasan, Pulau Kepala dan Pulau Tiga. Pulau Bunguran Besar atau pulau utama Natuna di mana Ranai sebagai ibukota Kabupaten Natuna berada.

Pulau Serasan merupakan salah satu gugus pulau yang berada di Natuna bagian timur dan secara geografis lebih dekat dengan wilayah Sambas, Kalimantan Barat dan Serawak. Pulau Serasan ini bisa dicapai melalui Selat Lampa (Natuna) maupun Pontianak dengan waktu tempuh sekitar 10-12 jam dengan menggunakan KM. Bukit Raya ataupun KM. Sabuk Nusantara.

Nelayan Natuna
Foto Dok. Fauzan

Gugusan Kepulauan Serasan sebenarnya mempunyai potensi yang cukup baik untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata bahari. Wilayah pesisirnya pun cukup dangkal dan tidak ada pencemaran air laut sangat mendukung pertumbuhan terumbu karang.

Di Serasan, terdapat Pantai Sisi yang memiliki pantai pasir putih  sepanjang 7 km, yang menjadi tempat penyu-penyu bertelur. Pada musim puncaknya, sekitar Juli-Agustus, akan banyak penyu yang datang untuk bertelur di sekitar Pantai Sisi. Beberapa pulau memiliki pantai dengan pasir yang lembut dan bersih, serta terdapat beberapa spot yang cukup baik untuk wisata memancing. Pada hari-hari tertentu dapat dijumpai penyu-penyu yang bertelur di sekitar pantai,

Salah satu permasalahan yang cukup menarik di Serasan adalah penyelundupan barang dari Serawak dan illegal fishing terutama penggunaan bom ikan dan racun potasium. Sekitar 70 persen kebutuhan masyarakat Pulau Serasan berasal dari wilayah Sematan, Serawak, karena secara geografis lebih dekat jika dibandingkan ke Natuna maupun ke Pontianak.

BACA:
Pengamat Perbatasan Fauzan: Indonesia Merasa Tidak Punya Batas Maritim dengan Cina

Menurut informasi dari seorang nelayan setempat, setiap 3 hari ada sekitar 5 kapal (pompong) yang berangkat menuju Sematan dengan membawa muatan ikan untuk dijual dan ditukar dengan barang-barang kebutuhan pokok masyarakat Serasan, seperti gula pasir, beras, minyak goreng, ayam beku, daging sapi, telur, tepung, susu, gas, dan barang-barang kebutuhan lainnya.

Transaksi ilegal seperti ini kadang tercium oleh aparat penegak hukum Malaysia. Beberapa kali terjadi kasus penangkapan. Menurut nelayan setempat, dalam 4-5 kali transaksi, biasanya akan tertangkap sekali, dan mereka dikenai denda yang cukup besar.

Kasus penangkapan ikan secara ilegal dengan menggunakan bom ikan dan racun potasium cukup marak di perairan sekitar Serasan.

Satu pengalaman menarik dari Serasan, saya sempat diteror dan diancam lewat telepon dan  SMS oleh seseorang yang saya duga adalah tokei (pengepul ikan-Red) yang berada di Pemangkat, Sambas, Kalimantan Barat. Tokei tersebut marah karena ada penangkapan nelayan-nelayan  yang menggunakan bom ikan oleh satuan TNI AL yang berpangkalan di Ranai. Penangkapan nelayan tersebut berdampak berkurangnya pasokan ikan ke tokei yang mengaku tinggal di Pemangkat.

Di Serasan, sempat melakukan ekspedisi ke pulau Kepala (Cepala) salah satu pulau kecil terluar (PPKT). Di Serasan juga melakukan kajian mengenai rencana pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Serasan yang akan menghubungkan dengan wilayah Sematan di Serawak. Tahun 2020, PLBN Serasan merupakan salah satu diantara 11 PLBN yang dibangun oleh pemerintah.

Di pulau Tiga, terdapat tempat penampungan nelayan-nelayan dan kapal-kapal Vietnam pelaku illegal fishing yang yang berhasil ditangkap. Di tempat penampungan ini terdapat sekitar 80 nelayan Vietnam yang menunggu proses hukum.

Saya sempat melakukan wawancara dengan salah satu nelayan Vietnam (Reo, namanya) yang kebetulan cukup fasih berbahasa Indonesia. Saya sempat membeli 1 hammock jaring hasil pekerjaan nelayan Vietnam. Di sela-sela waktu menunggu proses hukum, nelayan-nelayan ini ada yang membuat hammock jaring untuk dijual.

FAUZAN
Universiti Utara Malaysia dan Staf Pengajar HI UPN Yogyakarta

Bagikan :

Advertisement