NYALANYALI.COM – Lahir dari pasangan Sayid Husen bin Alwi bin Awal dan Mas Ajeng Zarip Husen, di Terboyo Semarang, Jawa Tengah sekitar 1814. Versi lain menyatakan 1811. Mempunyai nama asli Raden Saleh Syarif Bustaman. Semasa kecil beliau dibawa seorang pelukis berkebangsaan Belgia ke Bogor, kemudian ke Belgia.
Tahun 1929, Raden Saleh ikut ke Belanda bersama keluarga Belgia. Ia mengikuti pelajaran menggambar di Den Haag. Pada 1839, mendapat kesempatan study tour ke sejumlah negara Eropa seperti Jerman, Austria, Italia, dan Prancis. Karena lukisannya yang menggambarkan petarungan singa melawan banteng, Raden Saleh mendapat gelar kebangsawanan Knighthood of the Order of the Oaken Crown – Eikenkroon (Ksatria Orde Tahta Pohon Oak) dari raja William II pada 20 Desember 1844.
Kemudian, saat pemerintahan Raja William III, mendapat gelar resmi sebagai pelukis sang raja. Setelah 29 tahun tinggal di Eropa, akhir 1851 kembali ke Batavia dan menikah dengan Winkelman, seorang putri pengusaha keturunan Indo-Jerman. Tahun 1853, ia terlibat dalam bidang ilmiah dan menjadi satu-satunya anggota donor di Hinda Belanda dalam institute ilmiah.

Mengadakan perjalanan budaya mengelilingi Pulau Jawa pada 1865 dan melakukan ekskavasi mencari fosil-fosil arkeologi. Banyak temuan yang telah disumbangkan ke Natuurkunding Vereeniging in Nederlandhsch Indie (Asosiasi Ilmu-ilmu Alam di Hindia Belanda yang didirikan 1850).
Pada 1867, Raden Saleh pernah tinggal di Yogyakarta selama dua tahun dan menikah dengan R.A. Danudiredjo. Setahun kemudian pindah ke Bogor. Pada 1869, ia dituduh terlibat dalam pemberontakan pribumi di Tambun, Bekasi. Namun tuduhan itu tidak terbukti. Lalu Raden Saleh berkunjung kembali ke Eropa pada 1874 dan kembali empat tahun berselang.
Masa hidupnya berakhir pada 1880, beristirahat dengan damai bersama istrinya, R.A. Danudiredjo. Dua abad berlalu sejak kelahirannya, meninggalkan jejak sejarah bangsa yang tak ternilai harganya.

