NYALANYALI.COM – Psikolog Ajeng Raviando, Psi., menyebut bahwa stres tidak bisa dihilangkan begitu saja, tapi stres sesungguhnya dapat dikelola dengan baik. Terlebih saat pandemi ini, begitu banyak ketidakpastian dalam kehidupan sehari-hari.
“Kesehatan mental ini menentukan bagaimana kita mampu menangani stres, membuat pilihan, mengambil keputusan, dan berhubungan dengan orang lain. Jadi memiliki mental yang sehat itu sangat penting,” kata alumnus Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) yang bergiat pula sebagai mentor aplikasi Kejar Mimpi ini.
Ajeng mengatakan, stres tidak bisa serta merta memiliki tanda. “Biasanya ini baru teridentifikasi saat sudah mempengaruhi fisik,” kata dia.
Lebih lanjut, kepada Redaksi NyalaNyali.com, Ajeng Raviando mengungkapkan cara mengelola emosi dan stress dengan baik. Berikut petikannya:
Apa saja sih ciri-ciri ganguan emosi itu?
Jadi, kalau kita bicara tentang kesehatan mental, tentunya kita membahas kondisi kesejahteraan diri, yang mencakup kesejahteraan psikologis, emosional, dan sosial kita.
Nah, kesehatan mental ini menentukan bagaimana kita mampu menangani stres, membuat pilihan, mengambil keputusan, dan berhubungan dengan orang lain. Jadi memiliki mental yang sehat itu sangat penting.
Apakah emosi bisa dikelola dengan lebih baik?
Biasanya kalau lihat kondisi klien, tentunya beda-beda, jadi biasanya saya akan melakukan tes kecil-kecilan, untuk melihat kondisi kecemasannya seperti apa, kemampuannya mengelola emosinya seperti apa, apakah ada tanda-tanda dia stres.
Ada tanda-tanda jika mengalami gangguan emosi atau stres?
Biasanya ini baru teridentifikasi saat sudah mempengaruhi fisik, misalnya gampang sakit kepala, tegang otot, nyeri leher, gangguan pencernaan, nyeri dada, sakit perut, mudah lelah, gampang deg-degan, lesu, lelah, sulit tidur, ada juga yang tidur terus, gampang gugup, pelupa, susah konsentrasi, ingin makan terus atau malah nggak mau makan.
Itu semua adalah ciri-ciri atau indikasi kita mengalami stres. Dan, ini tidak hanya menimpa orang tua, tapi juga kepada anak-anak dan remaja.
Bagaimana mengatasi stres?
Jadi tergantung bagaimana individu tersebut bisa mengatasi stres tadi, jadi sebetulnya ketika ada masalah bisa membuat stres. Nah, biasanya kita lalu membuat copying behavior, yaitu prosess pengelolaan diri agar sejalan dengan berbagai situasi sulit yang dihadapi. Lalu, kalau ini sudah tidak bisa sejalan, biasanya kita harus beradaptasi.
BACA:
Ajeng Raviando. Psi,: Pandemi Membuat Kita Tangguh
Ajeng Raviando, Psi.: Masa Pandemi Jangan Lupakan Kesehatan Mental, Waspada Cabin Fever
Kalau aku pribadi, aku seneng travelling, jadi kalau sudah merasa butuh refreshing, maka aku akan jalan-jalan.nah dalam kondisi pandemi kan sulit dilakukan, maka kita perlu melakukan adaptasi yaitu proses mengubah sesuatu agar sesuai dengan kondisi yang berlainan.
Tapi karena kondisi saat ini akan up and down, sangat tergantung situasi dan kondisi. Seperti semula PSBB total, kemudian sudah transisi, kemudian kembali PSBB total, terus ada demo, situasi yang sangat fluktuatif ini dan ekstrem, dan hal ini menjadikan banyak orang sulit melakukan adaptasi. Padahal proses mengubah sesuatu agar sesuai dengan kondisi yang berlainan ini sebaiknya segera dilakukan, karena kalau tidak, akan terus-menarus stres.
Lantas?
Pada akhirnya kita diharapkan bisa melakukan resiliensi, ini sedang hits di dunia psikologi yaitu kemampuan untuk mengendalikan keadaan agar tertap berfungsi secara kompeten dalam menghadapi berbagai tekanan hidup, jadi kondisi-kondisi yang terjadi saat ini sebetulnya akan bisa mengasah orang-orang menjadi lebih tangguh.

